Jendela Peristiwa

IMG-20251208-WA0131

Aliansi Mahasiswa Pemuda Pangkal Perjuangan Geruduk Kejaksaan Negeri Karawang, Ini Tuntutannya

Jendela Jurnalis Karawang JABAR Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Pemuda Pangkal Perjuangan mendatangi Kejaksaan Negeri Karawang pada Senin (8/12/2025), membawa suara lantang mereka untuk menuntut penegakan hukum yang tegas dan tanpa kompromi.

Koordinator aksi, Kelvin, menyampaikan bahwa kedatangan mereka bukan semata-mata aksi protes, melainkan wujud kepedulian mahasiswa terhadap institusi kejaksaan.

“Kami dari aliansi, banyak kampus yang ikut, termasuk unsur pemuda yang bukan mahasiswa. Hari ini, kami hadir untuk menunjukkan bahwa kami sayang kepada Kejaksaan Negeri Karawang,” tegas Kelvin di hadapan puluhan aparat dan peserta aksi.

Mahasiswa membawa lima tuntutan utama yang dipajang di publik, namun di balik itu, mereka menyampaikan dokumen lengkap 36 halaman hasil kajian yang telah diserahkan langsung kepada Kejaksaan Negeri Karawang.

Dokumen ini berisi evaluasi dan rekomendasi terkait penanganan kasus dugaan korupsi di Karawang.

“Kami belum melihat keseriusan dalam penindakan korupsi. Tema kami adalah tindak korupsi tanpa kompromi. Kami sayang Kajari, kami ingin Kajari menegakkan hukum di Karawang setegak-tegaknya,” tegas Kelvin lagi dengan suara lantang, disambut sorak sorai mahasiswa yang hadir.Aksi ini berlangsung damai, namun penuh semangat, menegaskan bahwa generasi muda Karawang kini tak ragu menuntut transparansi dan keadilan. Kejaksaan Negeri Karawang sendiri menerima dokumen kajian tersebut, yang kini menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang.(Red)

IMG-20251206-WA0009

Banjir Rob Rendam Rumah Nelayan, Warga Tetap Perbaiki Jaring di Tengah Genangan Air

Foto Istimewa Warga Memperbaiki Jaring

Jendela Jurnalis Bekasi Fenomena banjir rob kembali merendam kawasan pesisir dan permukiman warga di Muara Gembong, Kabupaten Bekasi. Meski air laut naik hingga memasuki halaman dan teras rumah, nelayan tetap melanjutkan aktivitas sehari-hari, khususnya memperbaiki jaring sebagai perlengkapan utama untuk melaut.

Dari pantauan di lokasi, sejumlah warga terlihat duduk di teras rumah yang terendam air sambil menjahit ulang jaring tangkapannya. Aktivitas ini dilakukan meski sebagian peralatan basah terkena air rob yang semakin sering terjadi belakangan ini.

“Kalau jaring rusak gak diperbaiki, ya gak bisa melaut. Mau gimana lagi, air naik kita tetap kerja,” ujar salah seorang warga yang sedang memperbaiki jaring di pinggir rumahnya.

Rob yang belakangan makin sering terjadi ini disebut warga menjadi ancaman serius. Selain merendam rumah, rob juga berdampak pada aktivitas ekonomi nelayan. Namun hingga kini belum terlihat langkah konkret dari pihak terkait untuk mengatasi persoalan rob dan abrasi di wilayah pesisir.

Meski dalam kondisi sulit, masyarakat tetap berusaha mempertahankan aktivitasnya. Nelayan menegaskan bahwa perbaikan jaring merupakan persiapan penting agar tetap bisa melaut ketika kondisi laut memungkinkan. Tanpa hal tersebut, pendapatan mereka semakin terancam karena laut merupakan sumber penghidupan utama bagi warga pesisir.(Red)

IMG-20251204-WA0016

Banjir ROB Tak Menghalangi,Warga Tetap Ngoprek Jaring Seperti Lagi di “KOLAM RENANG” Pribadi

Foto Istimewa Warga Muara Gembong

Jendela Jurnalis Muara Gembong Meski banjir rob kembali mampir tanpa izin, warga setempat tetap menjalankan aktivitas seperti biasa bahkan dengan gaya yang bikin senyum.

Dalam sebuah momen unik, terlihat seorang warga duduk santai di halaman rumah yang sudah berubah fungsi jadi “kolam renang musiman”, sambil serius memperbaiki jaring ikan. Tanpa alas, tanpa panggung, hanya air rob yang tenang dan kesabaran tingkat dewa.

“Santai aja, yang penting jaring beres. Air mah bonus,” ujar warga yang seolah menikmati spa air asin gratis ini.

Sementara sebagian orang mungkin akan panik kalau rumahnya kebanjiran, masyarakat pesisir justru tampak sudah menyatu dengan kondisi. Ada yang tetap nyuci, ada yang tetap masak, dan ada juga yang memperbaiki jaring sambil seperti menikmati pemandangan air yang mengalir pelan kaya suasana vila tepi danau versi rob.

Fenomena ini menjadi bukti bahwa warga pesisir bukan hanya tangguh, tapi juga punya selera humor alami menghadapi keadaan. Karena kalau banjir datang tiap hari, mau marah capek sendiri mending dibawa santai sambil kerja.

Banjir rob boleh datang, tapi semangat hidup warga tetap mengapung. Bahkan kadang, lebih mengapung daripada barang-barang di halaman rumah mereka.(Red)

IMG-20251204-WA0007

Rob Telan Kampung Bungin, Pemerintah Masih Sibuk Menutup Mata: Warga Sudah Lelah Menunggu Kepedulian yang Tak Pernah Datang

Kondisi Banjir Rob di Kampung Bungin

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Di atas sebilah bambu basah, seorang warga pesisir hanya bisa duduk memandangi kampungnya yang kembali terendam. Air rob mengalir pelan namun pasti, sementara harapan masyarakat tenggelam jauh lebih cepat daripada rumah-rumah mereka yang kini semakin rusak.

‎Pemandangan ini bukan lagi bencana, tapi bukti kegagalan bertahun-tahun.
‎Gagal melindungi, gagal hadir, gagal peduli.

‎Warga pesisir tidak menuntut kemewahan—mereka hanya ingin bisa tinggal di kampung mereka tanpa harus bertarung melawan air laut setiap hari. Tetapi pemerintah yang seharusnya berdiri di barisan depan justru paling dulu menghilang.

‎“Kami bukan minta istana, kami cuma minta jangan dibiarkan tenggelam,” ujar salah satu warga dengan suara bergetar, menahan kecewa yang sudah terlalu lama dipendam.

‎Rob terus naik. Abrasi semakin menggigit daratan.
‎Namun pemerintah masih asik dengan alasan lama yang terus diulang seperti kaset rusak: menunggu anggaran, menunggu program, menunggu laporan, menunggu persetujuan…
‎Sementara warga tak tahu lagi apa yang harus ditunggu selain kampung ini benar-benar habis digerogoti laut.

‎Dari dulu pemerintah datang kalau ada kamera, pergi kalau warga butuh.
‎Datang kalau mau pencitraan, menghilang ketika masyarakat meminta keadilan.
‎Pesisir seperti hanya menjadi tempat untuk dikunjungi — bukan untuk diselamatkan.

‎Kampung yang terendam ini seolah berkata keras:
‎“Bukan laut yang paling kejam, tapi ketidakpedulian.”

‎Setiap hari warga dihantam kenyataan pahit:

‎Rumah retak dan terendam

‎Jalan berubah jadi sungai asin

‎Aktivitas lumpuh

‎Nelayan kesulitan berangkat melaut

‎Anak-anak tumbuh di lingkungan yang semakin berbahaya


‎Dan pemerintah?
‎Masih sibuk rapat.
‎Masih sibuk janji.
‎Masih sibuk diam.

‎Sementara itu warga pesisir hanya bisa menyaksikan kampung mereka perlahan lenyap, bukan karena mereka tidak berjuang—tetapi karena perjuangan mereka tidak pernah didengar.

‎Jika keadaan ini terus dibiarkan, nanti sejarah akan mencatat, yang pertama kali merusak pesisir bukanlah gelombang besar, tetapi pengabaian yang dibiarkan menjadi kebiasaan.

‎Dan ketika kampung ini benar-benar hilang, pertanyaan yang paling pedas akan tetap menggantung, “Di mana pemerintah ketika kami masih punya kesempatan untuk diselamatkan?” pungkasnya. (RCF)*

IMG-20251202-WA0010

Nelayan Hilang di Muara Bendera, RTKB Kampung Bungin Lakukan Penyisiran dan Pencarian Korban

Foto saat pencarian korban

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Tim RTKB (Relawan Tangguh Kampung Bungin) hari ini bergerak cepat turun ke perairan Muara Bendera untuk melakukan pencarian terhadap nelayan yang hilang saat aktivitas melaut. Dengan menggunakan perahu tradisional dan perlengkapan seadanya, para relawan menyisir area demi area di sekitar lokasi yang diduga menjadi titik jatuhnya korban.

‎RTKB terlihat bekerja tanpa henti, menghadapi panas terik dan gelombang naik-turun yang cukup menantang. Di bawah naungan terpal seadanya, para relawan tetap fokus memantau permukaan laut sambil mengoperasikan perahu untuk mencari tanda-tanda keberadaan korban.

‎“Kami dari RTKB tidak menunggu. Begitu mendengar kabar, kami langsung turun ke laut. Ini panggilan kemanusiaan,” ujar salah satu anggota RTKB yang ikut dalam pencarian.

‎Meski keterbatasan peralatan menjadi kendala, semangat para relawan tidak surut. Mereka menyisir jalur yang menurut pengalaman para nelayan sering menjadi arus membawa benda atau orang yang jatuh ke laut. RTKB juga terus memperbarui titik koordinasi untuk memastikan area pencarian lebih terarah.

‎Aksi cepat ini menjadi bukti bahwa RTKB terus hadir di garda terdepan setiap kali terjadi keadaan darurat di wilayah pesisir Muara Gembong. Hingga berita ini diturunkan, tim RTKB masih berada di laut melanjutkan pencarian dengan penuh kehati-hatian dan harapan korban segera ditemukan. (RCF)*

IMG-20251202-WA0001

Nelayan Hilang di Muara Bendera, RTKB Siap Lakukan Pencarian Hingga Tanjung Karawang

Ilustrasi

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Seorang nelayan bernama Muhamad Yatim (41) dilaporkan hilang saat mencari rajungan di perairan Muara Bendera, Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, pada Minggu malam (30/11/2025). Korban terakhir terlihat sekitar pukul 21.10 WIB ketika sedang melakukan aktivitas melaut ngobor rajungan.

‎Menurut laporan yang dihimpun dari Pokmaswas Laut Jaya Bahari, gelombang laut pada saat kejadian cukup besar. Korban diduga terpeleset dan jatuh ke laut ketika mencoba mencaduk rajungan. Hingga malam hari, korban tidak kembali ke darat.

‎Saksi bernama Wandi (40), sesama nelayan setempat, menyebutkan bahwa korban sempat terlihat beberapa saat sebelum kejadian. Namun setelah gelombang meninggi, korban tidak lagi terlihat di sekitar lokasi.

‎Masyarakat nelayan bersama Pokmaswas telah melakukan pencarian awal secara mandiri, namun hingga Senin pagi korban belum ditemukan.

‎RTKB Turun Tangan, Siapkan Pencarian Besar di Hari Selanjutnya

‎Relawan Tanggap Kampung Bungin (RTKB) menyatakan telah menerima laporan resmi terkait hilangnya Muhamad Yatim. Setelah melakukan koordinasi bersama unsur masyarakat, RTKB menegaskan dirinya siap menurunkan tim penuh pada esok hari.

‎Ketua RTKB menyampaikan, “Kami menerima laporan lengkap dari Pokmaswas Laut Jaya Bahari. Mulai besok pagi, seluruh anggota RTKB akan bergerak melakukan pencarian menggunakan perahu masing-masing. Area pencarian akan difokuskan dari Kampung Bungin hingga Tanjung Karawang,” ucapnya.

‎Menurutnya, penyisiran akan dilakukan dari garis pantai hingga ke tengah perairan, mengikuti arah arus dan pola angin yang biasa terjadi di wilayah Muara Gembong.

‎Menunggu Operasi Basarnas Jakarta

‎Pokmaswas telah mengirim laporan resmi ke Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Jakarta. Dalam laporan tersebut terlampir identitas korban, waktu kejadian, titik lokasi, serta keterangan saksi.

‎Sambil menunggu operasi resmi dari Basarnas, masyarakat nelayan setempat terus melakukan pemantauan di bibir pantai dan area sekitar lokasi korban terakhir terlihat.

‎RTKB mengajak semua pihak tetap waspada, tenang, serta tidak mengambil langkah yang membahayakan diri selama proses pencarian berlangsung.

‎Situasi Terakhir

‎Hingga berita ini diterbitkan, korban belum ditemukan. Tim gabungan diperkirakan mulai melakukan pencarian terpadu besok pagi dengan skala lebih luas. (RCF)*

IMG-20251122-WA0006

Warga Karawang Digegerkan Pendaratan Pesawat Komersil di Persawahan, Ini Kata Bupati Aep

Bupati Karawang dan Forkopimda

Jendela Jurnalis Karawang JABAR Warga Desa Kertawaluya, Kecamatan Tirtamulya, digegerkan oleh pendaratan darurat sebuah pesawat komersil milik PT Wisarada Sapanta Utama di area persawahan Dusun Ceplik, Jumat (21/11/2025) sore.

Insiden mendadak ini langsung menyita perhatian warga yang berbondong-bondong menuju lokasi.

Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh, SE bersama Forkopimda bergerak cepat menuju titik pendaratan untuk memastikan kondisi kru dan situasi lapangan tetap terkendali.

Bupati Aep mengapresiasi respons cepat aparat dan warga sekitar yang turut membantu mengamankan lokasi.

“Informasi ada pesawat jatuh dan kebetulan di wilayah Tirtamulya. Ada Pak Dandim, Pak Sekda, dan Pak Wabup. Kami melihat langsung kondisi pesawat dan Alhamdulillah kru pesawatnya aman,” ujarnya.

Menurut Bupati, terdapat lima orang di dalam pesawat pilot, kopilot, dan teknisi yang semuanya selamat. Pesawat diketahui berangkat dari Curug menuju Cirebon sebelum mengalami kendala di udara.

“Di ketinggian 550 feet mulai ada kendala. Enginenya masih nyala, tapi terjadi loss power. Pilot memutuskan menurunkan ketinggian hingga 500 feet,” jelas Bupati Aep.

Dalam situasi kritis tersebut, pilot kemudian mencari area aman untuk melakukan pendaratan darurat. Hamparan sawah di Tirtamulya dipilih sebagai lokasi paling memungkinkan.

“Pilot memastikan pesawat tidak menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan. Melihat area sawah, pilot memutuskan mendarat darurat di sini,” tambahnya.

Dari lima kru, satu orang mengalami luka ringan pada tangan. Bupati sempat menawarkan pemeriksaan rontgen, namun pihak maskapai memastikan kondisi korban tidak memerlukan penanganan lanjutan.

Maskapai dan tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dijadwalkan segera tiba untuk melakukan investigasi lebih lanjut.

Bupati Aep menegaskan bahwa pihaknya bersama TNI-Polri telah mengamankan area agar tetap steril dari kerumunan warga demi mencegah risiko tambahan.

“Yang penting pesawat aman dan jauh dari kerumunan masyarakat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya.

Hingga berita ini diturunkan, lokasi kejadian masih dalam penjagaan petugas sambil menunggu proses identifikasi dan investigasi KNKT.(Red)

IMG-20251107-WA0006

Banjir Rob Terus Naik, Warga Kampung Bungin Muara Gembong Siaga

Ilustrasi

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR — Banjir rob kembali melanda wilayah pesisir Kabupaten Bekasi. Air laut pasang dari arah tambak di Kampung Bungin, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, terus mengalami kenaikan sejak pukul 09.00 WIB dan mulai memasuki permukiman warga. Jum'at (7/11/25).

‎Awalnya, air hanya menggenangi area tambak dan jalan setapak, namun kini telah masuk ke halaman dan sebagian rumah warga. Kondisi tersebut membuat warga harus waspada dan mulai memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih tinggi.

‎Menurut Relawan Tangguh Kampung Bungin, kenaikan air rob kali ini terjadi lebih cepat dari biasanya.

“Air mulai naik sejak pagi dan sekarang terus bertambah. Kami dari Relawan Tangguh terus memantau kondisi di lapangan dan membantu warga yang terdampak, terutama lansia dan anak-anak,” ujar salah satu relawan di lokasi.

‎Relawan juga menyebutkan bahwa tanggul tambak di beberapa titik mulai melemah akibat tekanan air laut yang tinggi. Jika tidak segera diperbaiki, dikhawatirkan genangan akan semakin meluas ke area permukiman yang lebih padat.

‎Banjir rob ini diduga akibat pasang tinggi air laut yang bertepatan dengan kondisi angin kencang di wilayah pesisir utara Bekasi. Warga bersama relawan kini bersiaga menghadapi kemungkinan air naik lebih tinggi menjelang malam hari.

“Kami berharap ada perhatian dari pihak terkait untuk memperkuat tanggul dan memperbaiki saluran. Kalau tidak segera ditangani, air bisa makin naik,” tambah relawan tersebut. (Rey)*

IMG-20251006-WA0127

Siswa Kelas 2 Diduga Jadi Korban Bullying Siswa Kelas 6 di SDN Pisangsambo 1 Karawang, Wali Kelas Sebut Hanya Kesalahpahaman‎

Ilustrasi

Jendela Jurnalis Karawang, JABAR – Kasus dugaan perundungan kembali terjadi di lingkungan sekolah dasar. Seorang siswa kelas 2 di SDN Pisangsambo 1, Kabupaten Karawang, diduga menjadi korban kekerasan yang dilakukan oleh siswa kelas 6.

‎Peristiwa ini terjadi pada Senin, 6 Oktober 2025, di area sekolah saat jam istirahat. Berdasarkan keterangan orang tua korban, anaknya mengalami tindakan kekerasan berupa tendangan dari siswa yang lebih tua.

‎“Ini bukan pertama kali. Sebelumnya anak saya juga pernah dicekik dan dipalak oleh anak yang sama,” ujar orang tua korban dengan nada kesal.

“Kami berharap pihak sekolah segera bertindak agar tidak ada lagi anak yang jadi korban,” harapnya.

‎Sementara itu, pihak sekolah SDN Pisangsambo 1 saat dikonfirmasi melalui pesan aplikasi WhatsApp untuk dimintai keterangan terkait kejadian tersebut kepada Wali Kelasnya, dirinya menyebut bahwa itu hanyalah kesalahpahaman.

‎"Tidak ada perundungan, karena kesalahpahaman," timpalnya singkat.

‎Namun, saat ditanyakan lebih lanjut perihal kesalahpahaman seperti apa yang terjadi, dirinya malah mengarahkan awak media untuk datang ke sekolah.

‎Di sisi lain, kasus ini menimbulkan keprihatinan para orang tua murid dan masyarakat sekitar. Mereka berharap sekolah dapat segera menyelidiki peristiwa ini dan mengambil langkah tegas untuk mencegah kekerasan di lingkungan pendidikan dasar. (red/team)*

IMG-20250912-WA0049(1)

1.940 Butir Eksimer dan Tramadol Diamankan, Pemuda Cibuaya Ditangkap Polisi

Barang bukti dan terduga pelaku yang berhasil diamankan

Jendela Jurnalis Karawang, JABAR – Jajaran Unit Reskrim Polsek Cibuaya berhasil mengamankan seorang pria yang diduga sebagai pengedar obat-obatan terlarang jenis eksimer dan tramadol, pada Jumat (12/9/2025) dini hari sekitar pukul 01.30 WIB.

‎Kapolres Karawang AKBP Fiki N. Ardiansyah, melalui Kasi Humas Polres Karawang Ipda Cep Wildan, menjelaskan bahwa penangkapan tersebut berawal dari kegiatan Kring Serse menindaklanjuti adanya informasi masyarakat terkait peredaran obat-obatan terlarang di wilayah hukum Polsek Cibuaya.

‎Dalam giat tersebut, petugas mengamankan seorang laki-laki berinisial FT (25), warga Dusun Cemara 2, Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya. Dari tangan pelaku, polisi menemukan barang bukti sebanyak 1.940 butir obat terlarang dengan rincian:
‎ • Tramadol: 1.800 butir
‎ • Camlet: 10 butir
‎ • Merci: 10 butir
‎ • Eksimer: 120 butir

‎“Pelaku berikut barang bukti saat ini sudah diamankan dan diserahkan ke Satresnarkoba Polres Karawang untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ungkap Kasi Humas.

‎Polres Karawang berkomitmen untuk terus menindak tegas segala bentuk peredaran obat-obatan terlarang yang dapat merusak generasi muda.

‎Selain itu, masyarakat juga dihimbau untuk segera melaporkan apabila mengetahui adanya aktivitas mencurigakan terkait peredaran narkoba maupun obat-obatan terlarang dilingkungannya. (red)*