Jendela Sosial

IMG-20251204-WA0007

Rob Telan Kampung Bungin, Pemerintah Masih Sibuk Menutup Mata: Warga Sudah Lelah Menunggu Kepedulian yang Tak Pernah Datang

Kondisi Banjir Rob di Kampung Bungin

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Di atas sebilah bambu basah, seorang warga pesisir hanya bisa duduk memandangi kampungnya yang kembali terendam. Air rob mengalir pelan namun pasti, sementara harapan masyarakat tenggelam jauh lebih cepat daripada rumah-rumah mereka yang kini semakin rusak.

‎Pemandangan ini bukan lagi bencana, tapi bukti kegagalan bertahun-tahun.
‎Gagal melindungi, gagal hadir, gagal peduli.

‎Warga pesisir tidak menuntut kemewahan—mereka hanya ingin bisa tinggal di kampung mereka tanpa harus bertarung melawan air laut setiap hari. Tetapi pemerintah yang seharusnya berdiri di barisan depan justru paling dulu menghilang.

‎“Kami bukan minta istana, kami cuma minta jangan dibiarkan tenggelam,” ujar salah satu warga dengan suara bergetar, menahan kecewa yang sudah terlalu lama dipendam.

‎Rob terus naik. Abrasi semakin menggigit daratan.
‎Namun pemerintah masih asik dengan alasan lama yang terus diulang seperti kaset rusak: menunggu anggaran, menunggu program, menunggu laporan, menunggu persetujuan…
‎Sementara warga tak tahu lagi apa yang harus ditunggu selain kampung ini benar-benar habis digerogoti laut.

‎Dari dulu pemerintah datang kalau ada kamera, pergi kalau warga butuh.
‎Datang kalau mau pencitraan, menghilang ketika masyarakat meminta keadilan.
‎Pesisir seperti hanya menjadi tempat untuk dikunjungi — bukan untuk diselamatkan.

‎Kampung yang terendam ini seolah berkata keras:
‎“Bukan laut yang paling kejam, tapi ketidakpedulian.”

‎Setiap hari warga dihantam kenyataan pahit:

‎Rumah retak dan terendam

‎Jalan berubah jadi sungai asin

‎Aktivitas lumpuh

‎Nelayan kesulitan berangkat melaut

‎Anak-anak tumbuh di lingkungan yang semakin berbahaya


‎Dan pemerintah?
‎Masih sibuk rapat.
‎Masih sibuk janji.
‎Masih sibuk diam.

‎Sementara itu warga pesisir hanya bisa menyaksikan kampung mereka perlahan lenyap, bukan karena mereka tidak berjuang—tetapi karena perjuangan mereka tidak pernah didengar.

‎Jika keadaan ini terus dibiarkan, nanti sejarah akan mencatat, yang pertama kali merusak pesisir bukanlah gelombang besar, tetapi pengabaian yang dibiarkan menjadi kebiasaan.

‎Dan ketika kampung ini benar-benar hilang, pertanyaan yang paling pedas akan tetap menggantung, “Di mana pemerintah ketika kami masih punya kesempatan untuk diselamatkan?” pungkasnya. (RCF)*

IMG-20251202-WA0010

Nelayan Hilang di Muara Bendera, RTKB Kampung Bungin Lakukan Penyisiran dan Pencarian Korban

Foto saat pencarian korban

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Tim RTKB (Relawan Tangguh Kampung Bungin) hari ini bergerak cepat turun ke perairan Muara Bendera untuk melakukan pencarian terhadap nelayan yang hilang saat aktivitas melaut. Dengan menggunakan perahu tradisional dan perlengkapan seadanya, para relawan menyisir area demi area di sekitar lokasi yang diduga menjadi titik jatuhnya korban.

‎RTKB terlihat bekerja tanpa henti, menghadapi panas terik dan gelombang naik-turun yang cukup menantang. Di bawah naungan terpal seadanya, para relawan tetap fokus memantau permukaan laut sambil mengoperasikan perahu untuk mencari tanda-tanda keberadaan korban.

‎“Kami dari RTKB tidak menunggu. Begitu mendengar kabar, kami langsung turun ke laut. Ini panggilan kemanusiaan,” ujar salah satu anggota RTKB yang ikut dalam pencarian.

‎Meski keterbatasan peralatan menjadi kendala, semangat para relawan tidak surut. Mereka menyisir jalur yang menurut pengalaman para nelayan sering menjadi arus membawa benda atau orang yang jatuh ke laut. RTKB juga terus memperbarui titik koordinasi untuk memastikan area pencarian lebih terarah.

‎Aksi cepat ini menjadi bukti bahwa RTKB terus hadir di garda terdepan setiap kali terjadi keadaan darurat di wilayah pesisir Muara Gembong. Hingga berita ini diturunkan, tim RTKB masih berada di laut melanjutkan pencarian dengan penuh kehati-hatian dan harapan korban segera ditemukan. (RCF)*

IMG-20251202-WA0001

Nelayan Hilang di Muara Bendera, RTKB Siap Lakukan Pencarian Hingga Tanjung Karawang

Ilustrasi

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Seorang nelayan bernama Muhamad Yatim (41) dilaporkan hilang saat mencari rajungan di perairan Muara Bendera, Desa Pantai Bahagia, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, pada Minggu malam (30/11/2025). Korban terakhir terlihat sekitar pukul 21.10 WIB ketika sedang melakukan aktivitas melaut ngobor rajungan.

‎Menurut laporan yang dihimpun dari Pokmaswas Laut Jaya Bahari, gelombang laut pada saat kejadian cukup besar. Korban diduga terpeleset dan jatuh ke laut ketika mencoba mencaduk rajungan. Hingga malam hari, korban tidak kembali ke darat.

‎Saksi bernama Wandi (40), sesama nelayan setempat, menyebutkan bahwa korban sempat terlihat beberapa saat sebelum kejadian. Namun setelah gelombang meninggi, korban tidak lagi terlihat di sekitar lokasi.

‎Masyarakat nelayan bersama Pokmaswas telah melakukan pencarian awal secara mandiri, namun hingga Senin pagi korban belum ditemukan.

‎RTKB Turun Tangan, Siapkan Pencarian Besar di Hari Selanjutnya

‎Relawan Tanggap Kampung Bungin (RTKB) menyatakan telah menerima laporan resmi terkait hilangnya Muhamad Yatim. Setelah melakukan koordinasi bersama unsur masyarakat, RTKB menegaskan dirinya siap menurunkan tim penuh pada esok hari.

‎Ketua RTKB menyampaikan, “Kami menerima laporan lengkap dari Pokmaswas Laut Jaya Bahari. Mulai besok pagi, seluruh anggota RTKB akan bergerak melakukan pencarian menggunakan perahu masing-masing. Area pencarian akan difokuskan dari Kampung Bungin hingga Tanjung Karawang,” ucapnya.

‎Menurutnya, penyisiran akan dilakukan dari garis pantai hingga ke tengah perairan, mengikuti arah arus dan pola angin yang biasa terjadi di wilayah Muara Gembong.

‎Menunggu Operasi Basarnas Jakarta

‎Pokmaswas telah mengirim laporan resmi ke Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Jakarta. Dalam laporan tersebut terlampir identitas korban, waktu kejadian, titik lokasi, serta keterangan saksi.

‎Sambil menunggu operasi resmi dari Basarnas, masyarakat nelayan setempat terus melakukan pemantauan di bibir pantai dan area sekitar lokasi korban terakhir terlihat.

‎RTKB mengajak semua pihak tetap waspada, tenang, serta tidak mengambil langkah yang membahayakan diri selama proses pencarian berlangsung.

‎Situasi Terakhir

‎Hingga berita ini diterbitkan, korban belum ditemukan. Tim gabungan diperkirakan mulai melakukan pencarian terpadu besok pagi dengan skala lebih luas. (RCF)*

IMG-20251201-WA0014

Tiang Listrik Hampir Ambruk di Muara Kampung Bungin, Tokoh Pemuda: “Kalau ini dibiarkan, berarti keselamatan kami tidak dianggap!”

Kondisi tiang listrik

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Satu tiang listrik di tepi sungai Muara Kampung Bungin kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan dan mengancam keselamatan warga. Abrasi yang semakin parah membuat tanah penopang tiang terkikis habis, hingga tiang berdiri nyaris menggantung di atas air. Setiap hari warga hidup dalam ketakutan—bukan hanya takut listrik padam, tetapi takut tiang besi itu ambruk menimpa perahu nelayan yang melintas.

‎Kemarahan warga pun memuncak. Mereka menilai kondisi seperti ini tidak boleh lagi dibiarkan, apalagi sudah berlangsung lama tanpa tindakan nyata dari pihak terkait.

‎Tokoh pemuda Muara Kampung Bungin, ikut bersuara lantang.

‎“Kami ini manusia, bukan bayangan yang bisa diabaikan. Tiang itu sudah jelas-jelas mau jatuh. Jangan tunggu ada korban, baru kalian ribut datang! Kalau keselamatan warga muara bungin tidak dianggap, itu sama saja pemerintah menutup mata terhadap penderitaan kami di ujung negeri ini,” tegas dengan nada geram.

‎Tokoh pemuda mengatakan sudah terlalu banyak laporan, tetapi sedikit tindakan. Ia menekankan bahwa wilayah hilir seperti Muara Bungin sering kali hanya diingat saat ada proyek atau acara seremonial, namun diabaikan ketika masalah keselamatan warga muncul.

‎“Ini bukan sekadar tiang listrik, ini bukti bagaimana daerah kami diperlakukan. Kalau dalam waktu dekat tidak ada tim yang turun, saya sendiri yang akan datang ke kantor mereka.!" ujar Reydo, menegaskan sikap siap bergeraknya.

‎Warga menuntut agar PLN dan instansi terkait turun segera, melakukan pengecekan, dan memindahkan tiang tersebut sesegera mungkin sebelum terjadi bencana yang sebenarnya bisa dicegah.

‎Masyarakat Muara Kampung Bungin berharap suara keras ini akhirnya membuka mata pihak-pihak yang selama ini lamban merespons. Karena bagi mereka, keselamatan bukan permintaan, tapi hak hidup yang harus dijamin negara. (NN)*

IMG-20251201-WA0023

Persiapkan Acara Mujahadah Nisfusannah, PW Wahidiyah Jabar Konsisten Gelar Agenda Rutin Tahunan

Jendela Jurnalis Karawang JABAR PW Wahidiyah Provinsi Jawa Barat akan menggelar Mujahadah Nisfusannah di Lapang Rumah Sakit Rosela, Jalan Interchange Karawang Barat, pada 6 Desember 2025. Kegiatan tersebut dijadwalkan dihadiri langsung Pengasuh Perjuangan Wahidiyah Pusat, Kanjeng Romo Kiai Abdul Majid Ali Fikri RA.

Mujahadah Nisfusannah merupakan agenda rutin tahunan dalam organisasi Perjuangan Wahidiyah. Gerakan ini mengajak masyarakat untuk bersama-sama mengamalkan ajaran spiritual melalui Sholawat Wahidiyah yang pertama kali diamalkan oleh KH Abdoel Madjid Ma’roef.

Sholawat Wahidiyah dipandang sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya melalui doa dan zikir, dengan tujuan menjernihkan hati serta menenangkan jiwa.

Adapun gerakan Wahidiyah berawal dari amalan Sholawat Wahidiyah yang disusun KH Abdoel Madjid Ma’roef pada Tahun 1963 setelah melalui proses riyadhah dan permohonan petunjuk kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Perjuangan Wahidiyah berkembang melalui Yayasan dan Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri, Jawa Timur, yang secara resmi didirikan pada 15 Juli 2011 dan disahkan Kemenkumham pada 30 Desember 2011. Yayasan ini menaungi seluruh aktivitas perjuangan Wahidiyah di berbagai daerah.

Ketua Panitia Pelaksana III Mujahadah Nisfusannah, Ade Rosadi mengatakan, jamaah yang akan hadir berasal dari berbagai kabupaten/kota di Jawa Barat, serta dari DKI Jakarta, Banten, dan sejumlah provinsi lainnya, termasuk Jawa Timur.

“Rencana Mujahadah Nisfusannah ini sudah dimatangkan. Panitia lokal Karawang juga sudah melakukan persiapan, mulai dapur, tempat shalat berjamaah, tempat berwudhu, toilet, kamar mandi, dapur umum dan tenda-tenda penginapan sampai panggung dan tenda Mujahadah Nusfusannah,” ujar Ade Rosadi, Senin (1/12/2025).

Ia menambahkan bahwa kapasitas jamaah yang diproyeksikan hadir mencapai sekitar 10.000 orang. Karena itu, pihaknya berharap dukungan dari semua pihak, terutama pemerintah daerah dan masyarakat Jawa Barat.

Ade Rosadi juga menyampaikan harapan agar kegiatan yang diselenggarakan di Kabupaten Karawang ini berjalan baik dan lancar. Ia ikut mengajak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi untuk berkenan hadir dalam kegiatan tersebut.

“Sebagai orang nomor satu di Jawa Barat, tentu dielu-elukan kehadirannya oleh Jamaah Wahidiyah. Oleh karena itu kalangan jamaah Wahidiyah sangat berharap Gubernur Jabar memberikan support tersendiri melalui kehadirannya di tengah tengah jamaah,” pungkasnya.(Red)

IMG-20251129-WA0006

Jerit Warga Muara Kampung Bungin, Muara Gembong

Muara Kampung Bungin, Muara Gembong

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Di Muara Kampung Bungin, Muara Gembong, suara laut kini berubah menjadi keluhan yang tak lagi bisa disembunyikan. Ombak yang setiap hari menghantam pantai membawa cerita yang sama, tanah terus hilang, muara makin dangkal, dan kehidupan nelayan semakin berat. Abrasi merenggut daratan, penambangan pasir merusak dasar laut, sementara alat tangkap cantrang menghabisi biota yang menjadi sumber nafkah warga.

‎Di tengah keadaan yang semakin menyesakkan ini, seorang tokoh pemuda setempat, Reydo, menyampaikan suara hati yang mewakili seluruh masyarakat muara kampung bungin.

‎Dengan nada tegas namun penuh rasa kecewa, ia berkata, “Saya sudah melaporkan persoalan ini. Bila dalam satu bulan tidak ada yang turun melihat kondisi kami, saya akan kembali datang ke posko pengaduan. Dan kali ini, mungkin saya akan mengajak masyarakat lainnya untuk ikut bersama saya. Kami ingin bisa bertemu langsung dengan Pak Dedi Mulyadi. Aya salam ti budak hilir, Pak… Ulah ukur di kota wae. Turun sakali-kali ka hilir, ka tempat kami nu ayeuna lembur na kuat beak ku abrasi,” tuturnya.

‎Reydo menegaskan bahwa perjuangan ini bukan untuk kepentingan pribadi. Ini tentang hidup orang banyak—tentang laut yang semakin rusak, tentang kampung yang perlahan hilang, tentang masa depan anak-anak pesisir yang terancam.

‎Ia melanjutkan dengan suara bergetar, “Muara kami dangkal, pasir terus dikeruk, laut kami rusak. Kami bukan minta kemewahan, kami hanya minta diperhatikan. Masyarakat kota selalu jadi prioritas, tapi kami di hilir seakan tidak dianggap. Padahal laut inilah yang memberi makan kami setiap hari.”

‎Harapan warga kini tertuju pada pemerintah dan pihak terkait agar segera turun tangan. Mereka ingin melihat tindakan nyata—bukan hanya janji, bukan hanya rapat yang tak menyentuh akar masalah.

‎Karena bagi mereka, Muara Gembong bukan sekadar wilayah pesisir. Ini rumah, ini tanah kelahiran, dan ini tempat hidup yang sedang mereka pertahankan mati-matian. (NN)*

IMG-20251129-WA0038

PLN Peduli Bersama Forum DAS Cilamaya Tanam 20 Ribu Mangrove

Jendela Jurnalis Karawang JABAR PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Barat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan FORDAS Cilamaya, menanam 20 ribu bibit mangrove di pesisir utara Karawang dalam rangka memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia 2025. Kegiatan ini digelar serentak di berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertema PLN Peduli, Jumat (28/11/2025).

General Manager PLN UID Jawa Barat, Sugeng Widodo, dalam sambutannya mengatakan, penanaman mangrove menjadi langkah penting menjaga garis pantai Jawa Barat yang terus terdampak abrasi. Meski luas area tanam di Karawang relatif kecil, Sugeng berharap kegiatan itu dapat menjadi gerakan besar dalam menjaga lingkungan pesisir.

"Walaupun hanya sekitar dua hektare, kita berharap gerakan kecil ini menjadi gelombang besar penanaman mangrove di seluruh wilayah pesisir. Mangrove adalah benteng alam penjaga lautan," ujarnya.

Sugeng menambahkan, selain penanaman mangrove, PLN juga melaksanakan pelatihan perhitungan karbon bagi masyarakat serta program perawatan tanaman selama enam bulan. Seluruh rangkaian kegiatan merupakan bagian dari komitmen PLN mendukung konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Acara tersebut turut dihadiri Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat, Rizaldi Arvian, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Aisyah Diah, Kepala Dinas Perkebunan, Ganjar Yudiansyah, Kepala Dinas Kehutanan, Dodi Tardian, serta perwakilan komunitas Forum DAS Cilamaya dan unsur Pemerintahan Kecamatan Cilamaya Wetan.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsihmengungkapkan, bahwa penanaman mangrove ini merupakan bagian dari upaya menangani 12 juta hektare lahan kritis di Indonesia. Ia menyebut abrasi di wilayah pantai Jawa Barat telah mencapai lebih dari 300 hektare dalam beberapa tahun terakhir.

"Kegiatan hari ini bukan hanya simbolis. Ini bentuk sinergi seluruh pihak dalam mengatasi degradasi lingkungan. Garis pantai Jawa Barat panjang, PR kita besar, tapi kolaborasi seperti ini sangat berarti," katanya.

Ketua Komisi IV DPRD Jabar, Rizaldi Arvian menyampaikan, apresiasi kepada PLN atas inisiatif menanam 20 ribu bibit mangrove di Karawang Utara, salah satu daerah yang mengalami abrasi paling masif di Jawa Barat.

"Ini bukan sekadar kegiatan seremoni. Dampaknya mungkin tidak terasa besok, tetapi bertahun-tahun ke depan anak cucu kita akan merasakan manfaatnya. Karawang Utara sudah beberapa kali kehilangan akses jalan desa akibat abrasi," terang Rizaldi.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk turut menjaga lingkungan melalui langkah kecil di tingkat rumah tangga, termasuk tidak membuang sampah sembarangan dan mendukung upaya rehabilitasi pesisir.

Pada akhir acara, dilakukan simbolis penyerahan bibit mangrove, mangga, dan kelapa kepada Ketua Forum DAS Cilamaya, Muslim Hafiz, sebagai bentuk kolaborasi pelestarian lingkungan. Kegiatan ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada PLN dan para mitra yang terlibat, dilanjut dengan penanaman secara simbolis di pesisir pantai Muara Baru, Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang. (Red)

IMG-20251126-WA0042

Wujudkan Kepedulian Sosial, BRI Bagikan Makanan untuk Yatim dan Dhuafa di Jakarta Selatan

Jendela Jurnalis Jakarta Sebagai wujud kepedulian sosial dan semangat berbagi kepada sesama, BRI Kantor (KC) Jakarta Warung Buncit menggelar kegiatan “Jumat Berkah” dengan membagikan makanan ke Yayasan Yatim Piatu dan Duafa.

Kali ini BRI KC Jakarta Warung Buncit Berbagi kebahagiaan di Yayasan Harapan Robbani yang berlokasi Jakarta Selatan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program sosial rutin yang dilaksanakan oleh BRI KC Jakarta Warung Buncit sebagai bentuk kepedulian, sekaligus mempererat hubungan antara BRI KC Jakarta Warung Buncit dengan masyarakat sekitar yang membutuhkan.

Dalam pelaksanaannya, tim BRI KC Jakarta Warung Buncit turut terlibat langsung dalam proses pembagian makanan kepada yatim piatu dan duafa yang ada di Yayasan Harapan Robbani. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian BRI terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.

“Melalui kegiatan Jumat Berkah ini, kami berharap dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar sekaligus menumbuhkan semangat berbagi di antara insan BRILian,” ujar Pimpinan BRI KC Jakarta Warung Buncit, Pamadi Purno Widodo.

Pamadi menambahkan, suasana kegiatan berlangsung hangat dan penuh kebersamaan. Warga penerima bantuan pun menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan oleh BRI KC Jakarta Warung Buncit.

Melalui kegiatan semacam ini, BRI terus menunjukkan komitmennya untuk hadir memberikan makna bagi negeri, tidak hanya melalui layanan perbankan, tetapi juga melalui aksi nyata dalam membantu masyarakat dan memperkuat solidaritas sosial di lingkungan sekitar.

"Harapan kami dengan adanya Program Jumat Berkah ini bisa bermanfaat bagi orang banyak," tutupnya.(Red)

IMG-20251125-WA0016

Momentum Hari Guru Nasional, Jendela Jurnalis Ucapkan Apresiasi dan Penghormatan bagi Para Guru

Jendela Jurnalis Karawang, JABAR - Memperingati Hari Guru Nasional (HGN) pada Selasa, 25 November 2025. Tahun ini, peringatan HGN mengusung tema “Guru Hebat, Indonesia Kuat."

‎Peringatan HGN 2025 juga diwarnai dengan peluncuran logo resmi yang menggambarkan hubungan harmonis dan kolaboratif antara guru dan murid, berlandaskan kasih sayang, ketulusan, serta semangat belajar sepanjang hayat.

‎Logo tersebut sekaligus menjadi simbol penghargaan bagi seluruh pendidik di Indonesia yang terus berjuang tanpa kenal lelah.

‎Di momentum istimewa ini, PRIATNA Pemimpin Redaksi Media Online Jendela Jurnalis/jendralnews.co.id beserta segenap jajaran redaksi menyampaikan apresiasi dan penghormatan setinggi-tingginya kepada para guru nasional.

‎“Selamat Hari Guru Nasional 2025. Terima kasih kepada semua guru dan pendidik di seluruh Indonesia atas dedikasi dan pengabdian yang luar biasa. Guru adalah pilar utama kemajuan bangsa. Dengan guru yang hebat, Indonesia akan semakin kuat,” ujarnya Pimred jendralnews.co.id.

‎Ia menambahkan bahwa tantangan pendidikan di era digital dan globalisasi menuntut guru untuk terus beradaptasi, namun dedikasi dan ketulusan mereka dalam mendidik tetap menjadi fondasi utama dalam mencetak generasi masa depan.

‎Momentum Hari Guru Nasional tahun ini juga menjadi pengingat bahwa peningkatan kesejahteraan, kompetensi, dan penghargaan terhadap profesi guru harus terus menjadi prioritas.

‎Jendela Jurnalis berharap semoga peringatan HGN 2025 dapat menguatkan semangat para pendidik untuk terus mencerdaskan kehidupan bangsa serta menjadi inspirasi bagi seluruh masyarakat untuk menghargai peran guru sepanjang masa. (red)*

IMG-20251123-WA0029

Acara Selesai dan Sukses: Rangkaian Kegiatan Kemanusiaan & Lingkungan di Pantai Bakti Berakhir Lancar‎

Foto bersama saat penutupan kegiatan

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Rangkaian kegiatan sosial kemanusiaan dan peduli lingkungan di Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, resmi berakhir dengan sukses setelah tiga hari pelaksanaan yang melibatkan sinergi kuat antar lembaga, relawan, dan masyarakat setempat.

‎Pada hari ketiga, kegiatan difokuskan pada sunatan massal bagi anak-anak warga Pantai Bakti. Kegiatan berlangsung aman dan tertib, disambut antusias oleh para orang tua dan peserta, serta mendapatkan dukungan penuh dari tim medis dan relawan kesehatan yang bertugas.

‎Ketua RTKB dalam keterangannya kepada awak media menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak yang telah terlibat.
‎“Kami berterima kasih atas kepedulian dan kerja sama semua unsur yang telah hadir dan bekerja nyata untuk masyarakat pesisir. Semoga kegiatan kolaboratif seperti ini terus berlanjut untuk keberlangsungan Pantai Bakti,” ujarnya.

‎Lembaga dan unsur yang terlibat dalam kegiatan ini antara lain:

‎- BNPB

‎- BPBD Kota Bekasi

‎- BPBD Kabupaten Bekasi

‎- BPBD Karawang

‎- BPBD Purwakarta

‎- BAZNAS

‎- Relawan kemanusiaan & komunitas peduli lingkungan

‎- Tokoh masyarakat dan warga Pantai Bakti

‎Rangkaian kegiatan selama tiga hari meliputi:

‎- Pemasangan pemecah ombak & penanaman cemara laut

‎- Edukasi kesehatan masyarakat

‎- Edukasi lingkungan untuk anak-anak SDN 02 Pantai Bakti

‎- Kegiatan bersih-bersih pantai

‎- Sunatan massal sebagai bentuk pengabdian sosial

‎Penutupan rangkaian agenda ini ditandai dengan apel evaluasi singkat yang diikuti seluruh relawan dan peserta sebagai ungkapan syukur atas selesainya kegiatan tanpa kendala besar.

‎Selesai dan sukses, penyelenggara kegiatan pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkolaborasi untuk Pantai Bakti.

‎Pantai Bakti Kuat - Indonesia Tangguh. (NN)*