Jendela Sosial

1000051081

Gelar Penertiban di Hari Ketiga, Bidang Tibumtranmas Satpol PP Karawang Berhasil Tertibkan 192 Lapak Pedagang Liar

Dokumentasi penertiban lapak pedagang liar yang dipimpin oleh Acep Supriadi, S.H., S.HI., M.H. selaku Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Kabupaten Karawang

Jendela Jurnalis Karawang, JABAR - Masih dengan langkah persuasif dan humanis, Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat (Tibumtranmas) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Karawang terpantau masih melaksanakan kegiatan penertiban lapak atau warung dadakan yang berada di sepanjang jalur Jalan Baru Tanjungpura - Peundeuy. Kamis (2/4/26).

Seperti beberapa hari sebelumnya, penertiban lapak atau warung dadakan disepanjang jalur tersebut tetap dipimpin langsung oleh Acep Supriadi, S.H., S.HI., M.H. selaku Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Kabupaten Karawang dan masih didampingi oleh Kepala Seksi Operasi dan Pengendalian Satpol PP Kabupaten Karawang Tata Suparta, S.Ak.

Dalam kesempatannya, Acep Supriadi menerangkan bahwa penertiban yang diselenggarakan di hari ketiga tersebut, terhitung sudah 192 lapak yang berhasil ditertibkan.

"Selama tiga hari ini, sudah 192 lapak yang dibongkar, dengan rincian sebanyak 105 lapak telah dibongkar mandiri oleh pemiliknya dan ada 87 lapak yang dibongkar oleh Satpol PP," terangnya kepada Jendela Jurnalis. (2/4/26).

Lebih lanjut, Acep menegaskan bahwa masih terdapat sekitar 70 lapak yang masih tersisa.

"Yang 70 lapak lagi akan kita maksimalkan melalui patroli rutin," tegasnya.

Acep berharap, agar para pemilik lapak dapat membongkar secara mandiri dalam waktu dekat, karena keberadaan lapak dadakan di sepanjang Jalan Baru tersebut dinilai mengganggu ketertiban umum, mengurangi keindahan kota, serta berpotensi menghambat arus lalu lintas karena berdiri di bahu jalan maupun trotoar. (Red)*

1000050515

Dengan Langkah Persuasif dan Humanis, Satpol PP Karawang Tertibkan Lapak Dadakan Pedagang Liar

Acep Supriadi, S.H., S.HI., M.H., )Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Kab. Karawang) beserta jajaran Satpol PP Karawang saat melakukan penertiban.

Jendela Jurnalis Karawang, JABAR – Dalam rangka menjaga ketertiban umum dan menata kawasan perkotaan agar tetap tertib, aman, serta nyaman bagi masyarakat, Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat (Tibumtranmas) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Karawang melaksanakan kegiatan penertiban lapak atau warung dadakan yang berada di sepanjang jalur mudik, khususnya di Wilayah Jalan Baru. Selasa (31/3/2026).

Kegiatan penertiban tersebut dipimpin langsung oleh Acep Supriadi, S.H., S.HI., M.H. selaku Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat dan didampingi oleh Tata Suparta, S.Ak., selaku Kepala Seksi Operasi dan Pengendalian Satpol PP Kabupaten Karawang.

Sebelum penertiban dilakukan, Satpol PP Karawang telah memberikan surat himbauan kepada para pemilik warung dadakan agar secara mandiri membongkar lapak mereka setelah Hari Raya Idul Fitri.

"Kami telah menyampaikan surat himbauan kepada para pemilik warung dadakan agar membongkar sendiri lapaknya setelah Hari Raya Idul Fitri. Langkah ini merupakan upaya persuasif dan humanis sebelum dilakukan tindakan penertiban oleh petugas," ujar Acep.

Lebih lanjut, Acep menjelaskan bahwa keberadaan lapak dadakan di sepanjang Jalan Baru tersebut dinilai mengganggu ketertiban umum, mengurangi keindahan kota, serta berpotensi menghambat arus lalu lintas karena sebagian berdiri di bahu jalan maupun trotoar.

Dalam pelaksanaan penertiban di hari pertama, Satpol PP turun langsung melaksanakan patroli khusus penertiban Pedagang Kaki Lima (PKL) di jalur arus mudik dan arus balik, yaitu di rute Lampu Merah Peundeuy - Flyover Lamaran dengan langkah tegas namun tetap humanis, demi menjaga kelancaran lalu lintas dan keselamatan para pemudik.

Selain kegiatan penertiban, Acep menuturkan bahwa Bidang Tibumtranmas Satpol PP Kabupaten Karawang juga secara rutin melaksanakan patroli keliling setiap hari, guna mengantisipasi munculnya kembali lapak-lapak liar serta menjaga ketertiban umum di wilayah perkotaan Karawang guna memastikan kondisi wilayah tetap kondusif.

Adapun wilayah patroli tersebut meliputi kawasan Karawang Barat, Karawang Timur serta Telukjambe Timur yang menjadi prioritas pengawasan karena termasuk kawasan perkotaan dengan aktivitas masyarakat yang cukup tinggi.

Dalam kesempatannya, Satpol PP Kabupaten Karawang juga menghimbau dan menegaskan kepada masyarakat, khususnya para pedagang, agar tidak mendirikan bangunan atau lapak di fasilitas umum tanpa izin. Penertiban ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Daerah dalam menciptakan lingkungan yang tertib, aman, dan nyaman bagi masyarakat.

"Kami berharap masyarakat dapat memahami bahwa kegiatan ini bukan semata-mata penindakan, tetapi demi kepentingan bersama dalam menjaga ketertiban dan keindahan Kota Karawang," tegasnya.

Dengan adanya penertiban tersebut, Acep berharap agar kawasan Jalan Baru Karawang dapat kembali tertata rapi, serta memberikan kenyamanan bagi pengguna jalan dan masyarakat sekitar.

"Bukan sekedar berkeliling, Patroli ini juga bertujuan untuk memastikan kenyamanan warga. Karena tertib itu bukan membatasi, tapi melindungi. Agar tercipta Karawang Aman dan perjalanan pun nyaman," pungkasnya. (Red)*

IMG-20260125-WA0003

RTKB Pimpin Penanggulangan Limpasan Air Citarum di Kampung Jogol dengan Dukungan Kepala Desa

Penanganan Tanggul Citarum oleh RTKB

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - RTKB (Relawan Tangguh Kampung Bungin) kembali menunjukkan peran strategisnya sebagai garda terdepan masyarakat pesisir dalam menghadapi ancaman lingkungan. Pada Sabtu, 25 Januari 2025, RTKB memimpin langsung penanggulangan limpasan air Sungai Citarum di Kampung Jogol RT 03 RW 02, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, dengan dukungan penuh dari Kepala Desa beserta perangkat desa. Minggu (25/1/26).

‎Meningkatnya debit air Sungai Citarum akibat curah hujan tinggi menyebabkan potensi genangan di wilayah permukiman warga Kampung Jogol. Menyikapi kondisi tersebut, RTKB bergerak cepat, terstruktur, dan terkoordinasi dengan melakukan penanganan darurat pada titik-titik rawan limpasan air guna meminimalisir risiko yang lebih luas.

‎Aksi penanggulangan ini dilaksanakan secara gotong royong, melibatkan relawan RTKB dan unsur pemerintahan desa. Dukungan Kepala Desa memperkuat legitimasi dan efektivitas gerak RTKB di lapangan, sehingga penanganan dapat berjalan lebih optimal dan terarah.

‎Kegiatan ini menegaskan RTKB bukan hanya sebagai relawan tanggap darurat, tetapi sebagai penggerak ketahanan kampung yang mampu memimpin aksi nyata di tengah masyarakat. Kehadiran RTKB di Kampung Jogol menjadi bukti bahwa kekuatan relawan lokal memiliki peran vital dalam menjaga keselamatan lingkungan, khususnya di kawasan pesisir Muara Gembong yang rawan limpasan sungai.

‎Melalui penanggulangan limpasan air Sungai Citarum di Kampung Jogol ini, RTKB kembali memperkuat komitmennya untuk terus hadir, bergerak, dan memimpin upaya kemanusiaan serta perlindungan lingkungan demi keselamatan masyarakat. (RCF)*

IMG-20260121-WA0015

RTKB Aktif Terlibat dalam Penanganan Tanggul Citarum Jebol di Desa Pantai Bakti

Penanganan Tanggul Citarum oleh RTKB

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Banjir terjadi di Kampung Bendungan, RT 03, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, akibat jebolnya tanggul Sungai Citarum. Luapan air sungai menggenangi wilayah sekitar dan berdampak pada aktivitas masyarakat. Rabu (21/1/26).

‎Dalam penanganan kejadian tersebut, Relawan Tangguh Kampung Bungin (RTKB) aktif terlibat di lokasi penanganan tanggul jebol. RTKB hadir dan bekerja bersama unsur TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Pemerintah Desa Pantai Bakti, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta masyarakat setempat.

‎Keterlibatan RTKB difokuskan pada membantu penanganan dan perkuatan darurat tanggul yang mengalami kerusakan. Kegiatan dilakukan secara langsung di titik terdampak dengan berkoordinasi bersama unsur lain di lapangan.

‎Selama proses penanganan berlangsung, RTKB menyesuaikan peran sesuai kebutuhan di lokasi dan turut mendukung kelancaran kegiatan penanganan darurat. Kehadiran RTKB menjadi bagian dari dukungan relawan lokal dalam membantu pengendalian luapan air Sungai Citarum.

‎Penanganan tanggul jebol dilakukan secara bertahap dan terkoordinasi, sementara pihak desa dan instansi terkait melakukan pemantauan kondisi serta koordinasi lanjutan sesuai kewenangan masing-masing.

‎Kegiatan ini mencerminkan keterlibatan berbagai unsur, termasuk RTKB, dalam penanganan kejadian banjir di wilayah Kecamatan Muara Gembong. (RCF)*

IMG-20260112-WA0044

Gelar Patroli Khusus, Satpol PP Karawang Amankan Lima Pelajar yang Nongkrong di Warnet Saat Jam Belajar di Galuh Mas

Pelajar yang berhasil diamankan dalam patroli khusus

Jendela Jurnalis Karawang, JABAR - Dalam rangka menjaga ketertiban umum dan mendukung proses belajar mengajar, Satpol PP Kabupaten Karawang melaksanakan Patroli Khusus pada Senin, 12 Januari 2026, pukul 07.45–08.30 WIB di wilayah Galuh Mas Karawang.

‎Dalam patroli tersebut, Satpol PP Kabupaten Karawang mengamankan 5 orang pelajar yang terciduk sedang bermain game saat jam pelajaran di salah satu warnet yang berada di wilayah Galuh Mas. Ke 5 pelajar tersebut kemudian digiring dan diamankan ke Mako Satpol PP Kabupaten Karawang untuk dilakukan pembinaan lebih lanjut.

‎Acep Supriadi, S.H., S.HI., M.H., selaku Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Kabupaten Karawang menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut atas adanya laporan masyarakat terkait keberadaan siswa sekolah yang bermain game di Warnet (warung internet) pada saat jam belajar.

‎Menurutnya, dengan adanya laporan masyarakat, menunjukan bahwa hal tersebut merupakan cerminan dari kepedulian bersama dalam aspek sosial dan ketertiban lingkungan.

‎"Langkah ini juga dilakukan sebagai upaya preventif, guna mengantisipasi potensi gangguan ketertiban umum, serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya disiplin dan tanggung jawab sebagai pelajar," tegasnya.

‎Atas dasar hal tersebut, Satpol PP Kabupaten Karawang juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus berperan aktif dalam menjaga ketertiban dan ketentraman lingkungan. (NN)*

IMG-20260111-WA0001

LDD-KAJ Serahkan Hibah Rompi kepada RTKB Kampung Bungin

Penyerahan Hibah Rompi

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - LDD-KAJ menyerahkan hibah berupa rompi kepada Relawan Tangguh Kampung Bungin (RTKB) sebagai bentuk dukungan terhadap kegiatan sosial dan kemanusiaan yang selama ini dijalankan di wilayah pesisir Kampung Bungin. Sabtu (10/1/26).

Penyerahan hibah tersebut berlangsung dalam suasana sederhana dan penuh keakraban. Kegiatan ini dimotori langsung oleh Bapak Sulistyono dari LDD-KAJ, yang secara simbolis menyerahkan rompi kepada perwakilan RTKB.

Selain penyerahan hibah, acara juga diisi dengan diskusi santai antara LDD-KAJ dan RTKB. Diskusi tersebut membahas berbagai kegiatan berkelanjutan yang dapat dilakukan secara kolaboratif, khususnya dalam upaya penguatan peran relawan di tengah masyarakat, penanganan persoalan lingkungan pesisir, serta respon sosial terhadap kondisi darurat di Kampung Bungin.

Bapak Sulistyono menyampaikan bahwa hibah rompi ini diharapkan dapat meningkatkan semangat dan identitas relawan RTKB dalam menjalankan tugas-tugas kemanusiaan. Ia juga menegaskan pentingnya sinergi antara lembaga dan masyarakat dalam menciptakan gerakan sosial yang konsisten dan berkelanjutan.

Sementara itu, RTKB menyambut baik dukungan dari LDD-KAJ dan berharap kerja sama ini tidak berhenti pada penyerahan bantuan semata, tetapi terus berlanjut dalam bentuk pendampingan, diskusi, dan aksi nyata di lapangan.

Kegiatan ini menjadi langkah awal penguatan kolaborasi antara LDD-KAJ dan RTKB demi mendukung ketangguhan masyarakat Kampung Bungin dalam menghadapi berbagai tantangan sosial dan lingkungan. (RCF)*

IMG-20260110-WA0002

Kegiatan Penanggulangan Abrasi Pantai Muara Bungin Dilakukan oleh Masyarakat, RTKB, dan Pemdes Pantai Bakti

Foto Masyarakat Pantai Bakti saat membuat tanggul penahan abrasi

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Masyarakat Kampung Muara Bungin bersama Kelompok RTKB dan Pemerintah Desa Pantai Bakti melaksanakan kegiatan penanggulangan abrasi di wilayah pesisir Pantai Muara Bungin. Sabtu (10/1/26)

Kegiatan ini dilakukan secara gotong royong sebagai respons atas kondisi abrasi yang semakin parah dan terus menggerus garis pantai. Abrasi telah berdampak pada kerusakan lahan tambak, fasilitas lingkungan, serta mengancam keberlangsungan pemukiman warga di kawasan pesisir.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat bersama Kelompok RTKB melakukan penataan material penahan ombak sederhana, penguatan bibir pantai, serta pembersihan area yang terdampak abrasi. Pemerintah Desa Pantai Bakti turut hadir dan terlibat langsung sebagai bentuk dukungan terhadap upaya penyelamatan wilayah pesisir.

Kegiatan ini merupakan langkah awal penanganan darurat yang dilakukan secara mandiri oleh masyarakat sambil menunggu adanya penanganan lanjutan yang lebih permanen. Kolaborasi antara warga, kelompok masyarakat, dan pemerintah desa menjadi upaya bersama dalam menjaga lingkungan pesisir dari kerusakan yang lebih luas.

Penanggulangan abrasi di Pantai Muara Bungin diharapkan dapat menjadi perhatian serius bagi pemerintah daerah dan instansi terkait guna mendorong solusi jangka panjang dan berkelanjutan bagi wilayah pesisir. (RCF)*

IMG-20251220-WA0021

RTKB Lakukan Penanaman Pohon di Muara Bungin, Upaya Nyata Melawan Abrasi dan Kerusakan Pesisir‎

Kegiatan penanaman pohon

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - RTKB (Relawan Tangguh Kampung Bungin) kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga lingkungan pesisir dengan melaksanakan kegiatan penanaman pohon di wilayah Muara Bungin, Kecamatan Muara Gembong, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (20/12/2025).

‎Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi pesisir yang kian terancam abrasi, pendangkalan, serta rusaknya ekosistem akibat tekanan alam dan aktivitas manusia. Penanaman pohon difokuskan di area rawan abrasi yang selama ini menjadi benteng alami bagi permukiman warga dan tambak nelayan.

‎Pantauan di lapangan menunjukkan para relawan bekerja secara gotong royong menanam bibit pohon di sepanjang area pesisir. Bibit ditanam dengan metode sederhana namun terukur, disertai pemasangan ajir dan pengamanan agar tanaman dapat tumbuh optimal meski berada di lingkungan ekstrem pesisir.

‎Koordinator kegiatan RTKB menyampaikan bahwa penanaman pohon ini bukan sekadar kegiatan simbolik, melainkan bagian dari upaya jangka panjang menyelamatkan Kampung Bungin dari ancaman kerusakan lingkungan.

‎“Muara Bungin adalah wilayah yang setiap tahun terus tergerus abrasi. Jika tidak ada langkah nyata, maka perlahan kampung ini akan hilang. Penanaman pohon adalah ikhtiar kecil kami agar alam kembali memiliki pelindungnya,” ujarnya.

‎Menurut RTKB, vegetasi pesisir memiliki peran penting dalam menahan gelombang, mengurangi laju abrasi, serta menjadi habitat alami bagi berbagai biota laut. Selain itu, pohon-pohon tersebut diharapkan mampu memperbaiki kualitas lingkungan dan memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat pesisir.

‎Warga sekitar menyambut positif kegiatan ini. Mereka menilai kehadiran relawan menjadi penguat harapan di tengah keterbatasan perhatian terhadap persoalan lingkungan pesisir. Selama ini, masyarakat Muara Bungin kerap menghadapi dampak langsung abrasi seperti rusaknya tambak, sulitnya akses nelayan, dan berkurangnya lahan produktif.

‎RTKB juga menegaskan bahwa kegiatan ini akan terus berlanjut dan membutuhkan dukungan berbagai pihak, baik pemerintah, dunia usaha, maupun masyarakat luas. Upaya penyelamatan pesisir, menurut mereka, tidak bisa dilakukan secara parsial, tetapi harus menjadi gerakan bersama.

‎“Kami membuka pintu kolaborasi. Lingkungan pesisir adalah tanggung jawab bersama. Apa yang kami lakukan hari ini mungkin kecil, tapi jika dilakukan terus-menerus dan didukung banyak pihak, dampaknya akan besar,” tambahnya.

‎Dengan adanya kegiatan penanaman pohon ini, RTKB berharap Muara Bungin dapat kembali memiliki benteng alami yang kuat, sekaligus menjadi contoh bahwa kepedulian lingkungan bisa dimulai dari gerakan warga dan relawan di tingkat akar rumput. (RCF)*

IMG-20251219-WA0040

Tunjukan Komitmen, BRI BO Tambun Salurkan TJSL Berupa 5.000 Paket Sembako

Foto saat penyerahan TJSL

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Bank Rakyat Indonesia (BRI) Branch Office (BO) Tambun kembali menunjukkan komitmennya dalam membantu masyarakat melalui Program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL). Kali ini kegiatan sosial digelar dengan membagikan 5.000 paket sembako kepada warga Kabupaten Bekasi.

‎Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu (18/10/2025) ini melibatkan jajaran pekerja BRI BO Tambun, termasuk Pemimpin Cabang, Supervisor Penunjang Operasional (SPO), Petugas Penunjang Operasional (PPO), serta Tim Mikro BRI. Pembagian dilakukan di wilayah Kabupaten Bekasi dengan sasaran masyarakat yang membutuhkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Paket TJSL berupa sembako

‎Pemimpin Cabang BRI BO Tambun, Levo Dharata Pratama menjelaskan, kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian sosial BRI terhadap kondisi ekonomi masyarakat di sekitar wilayah kerja mereka.

‎“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Bekasi dalam memenuhi kebutuhan pokok mereka,” ungkapnya.

‎Melalui kegiatan Program TJSL ini, BRI BO Tambun berupaya memperkuat perannya sebagai lembaga keuangan yang tidak hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat.

‎BRI BO Tambun berkomitmen untuk terus melanjutkan program TJSL serupa kedepannya sebagai bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung kesejahteraan masyarakat Kabupaten Bekasi.

‎"BRI BO Tambun akan selalu memenuhi kebutuhan nasabah serta masyarakat sekitar yang membutuhkan," tutupnya. (*)

IMG-20251204-WA0007

Rob Telan Kampung Bungin, Pemerintah Masih Sibuk Menutup Mata: Warga Sudah Lelah Menunggu Kepedulian yang Tak Pernah Datang

Kondisi Banjir Rob di Kampung Bungin

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Di atas sebilah bambu basah, seorang warga pesisir hanya bisa duduk memandangi kampungnya yang kembali terendam. Air rob mengalir pelan namun pasti, sementara harapan masyarakat tenggelam jauh lebih cepat daripada rumah-rumah mereka yang kini semakin rusak.

‎Pemandangan ini bukan lagi bencana, tapi bukti kegagalan bertahun-tahun.
‎Gagal melindungi, gagal hadir, gagal peduli.

‎Warga pesisir tidak menuntut kemewahan—mereka hanya ingin bisa tinggal di kampung mereka tanpa harus bertarung melawan air laut setiap hari. Tetapi pemerintah yang seharusnya berdiri di barisan depan justru paling dulu menghilang.

‎“Kami bukan minta istana, kami cuma minta jangan dibiarkan tenggelam,” ujar salah satu warga dengan suara bergetar, menahan kecewa yang sudah terlalu lama dipendam.

‎Rob terus naik. Abrasi semakin menggigit daratan.
‎Namun pemerintah masih asik dengan alasan lama yang terus diulang seperti kaset rusak: menunggu anggaran, menunggu program, menunggu laporan, menunggu persetujuan…
‎Sementara warga tak tahu lagi apa yang harus ditunggu selain kampung ini benar-benar habis digerogoti laut.

‎Dari dulu pemerintah datang kalau ada kamera, pergi kalau warga butuh.
‎Datang kalau mau pencitraan, menghilang ketika masyarakat meminta keadilan.
‎Pesisir seperti hanya menjadi tempat untuk dikunjungi — bukan untuk diselamatkan.

‎Kampung yang terendam ini seolah berkata keras:
‎“Bukan laut yang paling kejam, tapi ketidakpedulian.”

‎Setiap hari warga dihantam kenyataan pahit:

‎Rumah retak dan terendam

‎Jalan berubah jadi sungai asin

‎Aktivitas lumpuh

‎Nelayan kesulitan berangkat melaut

‎Anak-anak tumbuh di lingkungan yang semakin berbahaya


‎Dan pemerintah?
‎Masih sibuk rapat.
‎Masih sibuk janji.
‎Masih sibuk diam.

‎Sementara itu warga pesisir hanya bisa menyaksikan kampung mereka perlahan lenyap, bukan karena mereka tidak berjuang—tetapi karena perjuangan mereka tidak pernah didengar.

‎Jika keadaan ini terus dibiarkan, nanti sejarah akan mencatat, yang pertama kali merusak pesisir bukanlah gelombang besar, tetapi pengabaian yang dibiarkan menjadi kebiasaan.

‎Dan ketika kampung ini benar-benar hilang, pertanyaan yang paling pedas akan tetap menggantung, “Di mana pemerintah ketika kami masih punya kesempatan untuk diselamatkan?” pungkasnya. (RCF)*