Jendela Daerah

IMG-20251203-WA0010

In House Training Pancawaluya di SMAN 5 Karawang Resmi Dibuka

Jendela Jurnalis Karawang JABAR Sinar mentari pagi seolah turut menyemangati para guru SMAN 5 Karawang (Smanli) yang berkumpul untuk mengikuti In House Training (IHT) Pancawaluya. Aula sekolah menjadi saksi bisu semangat baru yang terpancar dari wajah-wajah pendidik yang siap menimba ilmu.

Selama dua hari, mulai Selasa, 2 Desember, hingga Rabu, 3/12/2025, para guru mengikuti pelatihan intensif yang merupakan bagian dari program prioritas Jawa Barat. Program yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), melalui Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat ini bertujuan membentuk karakter yang kokoh dan humanis bagi seluruh insan pendidikan.

Kepala SMAN 5 Karawang, Dr. Epul Saepul, S.Pd.I, M.Pd., secara resmi membuka kegiatan ini. Untuk memastikan materi tersampaikan dengan optimal, Smanli menghadirkan dua narasumber yang kompeten dan inspiratif: Dr. Anggy Giri Prawiyogi, M.Pd., M.Sn. (praktisi/dosen), dan Eja Suteja, M.Pd. (pengawas pendamping).

Para guru tampak antusias mengikuti setiap sesi, menunjukkan komitmen mereka untuk menyerap ilmu dan nilai-nilai luhur yang akan mereka implementasikan di ruang kelas.

Dalam sambutan pembukaannya, Dr. Epul Saepul menyampaikan visi besarnya bagi seluruh warga Smanli. Ia menekankan bahwa Pancawaluya bukan sekadar program, melainkan filosofi hidup yang harus diinternalisasi.

"Dengan IHT Pancawaluya, mudah-mudahan warga Smanli, baik siswa, guru, maupun tata usaha, menjadi warga yang memiliki karakter Pancawaluya (Cageur, Bageur, Bener, Pinter, tur Singer)," ujar Dr. Epul dengan penuh harap.

Karakter Pancawaluya mencakup lima pilar utama: Cageur (Sehat/Bugar), Bageur (Baik hati), Bener (Jujur dan Benar), Pinter (Cerdas), dan Singer (Terampil/Mampu).

SMAN 5 Karawang bertekad mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral dan fisik yang kuat. IHT ini menjadi langkah awal yang inspiratif untuk mewujudkan lingkungan sekolah yang sehat, berbudi luhur, berilmu, dan berdaya saing di Karawang.(Red)

IMG-20251203-WA0005

Sambangi Disdikpora dan Diskominfo,AMKI Karawang Perkenalkan Program Kerja Organisasi

Jendela Jurnalis Karawang JABAR Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Kabupaten Karawang memulai rangkaian kunjungan silaturahmi ke sejumlah instansi pemerintah daerah dalam rangka memperkenalkan keberadaan dan program kerja organisasi.

Kunjungan perdana dilakukan kepada Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Karawang, H. Wawan Setiawan, dan dilanjutkan ke Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Karawang bertemu Kepala Dinas, Poltak S.ML. Toruan.

Ketua AMKI Karawang, Endang Nupo menyampaikan, bahwa silaturahmi ini menjadi langkah awal membangun hubungan kolaboratif dengan pemerintah daerah terkait peran media konvergensi dalam penyebaran informasi yang akurat dan edukatif.

"AMKI hadir sebagai wadah bagi media-media konvergensi di Karawang, dan kami ingin memastikan sinergi yang baik dengan seluruh pemangku kepentingan, terutama dalam mendukung ekosistem informasi yang sehat di daerah. Hari ini kami memperkenalkan organisasi sekaligus menyampaikan komitmen untuk bermitra secara konstruktif," ujar Endang, Selasa (2/12/2025).

Rombongan AMKI dipimpin langsung oleh Endang Nupo bersama Sekretaris AMKI, Rd. Cholil Arief, Bendahara AMKI, Yanto Mulyana, serta sejumlah pengurus lainnya. Dalam pertemuan tersebut, AMKI juga memaparkan fokus kerja organisasi, termasuk penguatan kapasitas anggota, peningkatan standar profesionalisme media, serta kontribusi dalam publikasi kegiatan pemerintah daerah.

Kepala Disdikpora Karawang, H. Wawan Setiawan, menyambut baik kehadiran AMKI dan berharap kolaborasi dapat mendukung penyebarluasan informasi pendidikan, kepemudaan dan olahraga kepada masyarakat. Sementara itu, Kepala Dinas Kominfo Karawang, Poltak, mengapresiasi inisiatif AMKI yang dinilai selaras dengan upaya pemerintah daerah dalam mengembangkan media yang adaptif terhadap perkembangan teknologi informasi.

Endang menegaskan bahwa AMKI akan terus melakukan kunjungan ke berbagai instansi, lembaga, serta komunitas untuk membangun jejaring kemitraan dan memperkuat peran media konvergensi di Karawang.

"Kami ingin memastikan AMKI dapat memberikan manfaat nyata, baik bagi anggota maupun bagi masyarakat luas melalui pemberitaan yang profesional dan berimbang," ungkapnya.

Rangkaian silaturahmi ini menjadi bagian dari persiapan AMKI Karawang dalam memperluas kolaborasi dan memperkuat struktur organisasi menjelang agenda-agenda besar yang akan dijalankan pada tahun mendatang. (Red)

IMG-20251202-WA0012

DKM Masjid Agung Karawang Dilantik, Ini Susunannya

‎Jendela Jurnalis Karawang JABAR Pelantikan Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid Agung Karawang, Periode 2005-2029 dilaksanakan di aula Husni Hamid komplek plaza Pemda Karawang, Selasa (2/12/2025).

‎Pengurus DKM Masjid Agung Dilantik oleh Bupati Karawang, H. Aep Syaepuloh sesuai dengan Surat Keputusan Bupati Karawang.

‎KEPUTUSAN BUPATI KARAWANG
‎LAMPIRAN
‎NOMOR 100.3.3.2/Kep.383 Huk/2025
‎TANGGAL 1 Oktober 2025

‎SUSUNAN DAN PERSONALIA MASJID AGUNG KARAWANG
‎PERIODE TAHUN 2025-2029

‎A. Dewan Pembina
‎1. Bupati Karawang
‎2. Kapolres Karawang.
‎3. Dandim 0604 Karawang
‎4. Kepala Kejaksaan Negeri Karawang
‎5. Ketua DPRD Kabupaten Karawang
‎6. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten
‎Karawang,
‎7. Ketua MUI Kabupaten Karawang

‎B. Dewan Penasihat
‎1. H. Asep Aang Rahmatullah, S.ST.P, MP.
‎2. Dr. H. A. Kosim, Lc, M. Pd.;
‎3. K.H. Asep Scafudin Hamidi.;
‎4. Drs. Wawan Setiawan;
‎5. H. Nurhasan;
‎6. H. Uyeh;
‎7. Drs. H. U. Subardi;

‎Dewan Pengawas
‎1. Drs. K.H. Asep Nazarudin, M.A.;
‎2. H. E. Kosasih;
‎3. H. Andi La Ode;
‎4. R.H. Andan Purnama;
‎5. H. Rush Jawana;
‎6. Bambang Pujiadi, S.T.;
‎7. Robby Satria Mulia;

‎Ketua
‎: H. Zeni Zaelani

‎E. Wakil Ketua
‎1. K.H. Aef Syaifullah Ahmad, S.S.;
‎2. H. Asep Kurniawan, S.H.;

‎F. Sekretaris
‎: Ifan R Fansuri;

‎G. Wakil Sekretaris
‎1. lif Fahmi, S. Sos.;
‎2. Ary Dwi Kurniawan, S.H., M.H.;

‎H. Bendahara
‎: Nurali, M.Pd.;

‎I. Wakil Bendahara
‎1. H. Iwan HS Nurhasanah;
‎2. Enjat Sudrajat, S.E.;

‎J. Bidang Idaroh
‎Ketua
‎: Drs. Jaa Maliki, M.H.;
‎Sekretaris
‎: Ahmad Nahrowi, S.H.I.;
‎Anggota
‎1. Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Setda
‎Kabupaten Karawang,
‎2. H. TB Asyiri, SQ;
‎3. Syarif Hidayat, S.E.

‎Dalam sambutan pertamanya, Ketua DKM yang baru mengatakan bahwa DKM itu mengurus umat.

‎"Kalau nyebut DKM itu jangan cepat-cepat, kalau terlalu cepat jadinya MDK, yaitu Mengurus Duit Koropak," ungkapnya.(Red)

IMG-20251201-WA0014

Tiang Listrik Hampir Ambruk di Muara Kampung Bungin, Tokoh Pemuda: “Kalau ini dibiarkan, berarti keselamatan kami tidak dianggap!”

Kondisi tiang listrik

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Satu tiang listrik di tepi sungai Muara Kampung Bungin kini berada dalam kondisi mengkhawatirkan dan mengancam keselamatan warga. Abrasi yang semakin parah membuat tanah penopang tiang terkikis habis, hingga tiang berdiri nyaris menggantung di atas air. Setiap hari warga hidup dalam ketakutan—bukan hanya takut listrik padam, tetapi takut tiang besi itu ambruk menimpa perahu nelayan yang melintas.

‎Kemarahan warga pun memuncak. Mereka menilai kondisi seperti ini tidak boleh lagi dibiarkan, apalagi sudah berlangsung lama tanpa tindakan nyata dari pihak terkait.

‎Tokoh pemuda Muara Kampung Bungin, ikut bersuara lantang.

‎“Kami ini manusia, bukan bayangan yang bisa diabaikan. Tiang itu sudah jelas-jelas mau jatuh. Jangan tunggu ada korban, baru kalian ribut datang! Kalau keselamatan warga muara bungin tidak dianggap, itu sama saja pemerintah menutup mata terhadap penderitaan kami di ujung negeri ini,” tegas dengan nada geram.

‎Tokoh pemuda mengatakan sudah terlalu banyak laporan, tetapi sedikit tindakan. Ia menekankan bahwa wilayah hilir seperti Muara Bungin sering kali hanya diingat saat ada proyek atau acara seremonial, namun diabaikan ketika masalah keselamatan warga muncul.

‎“Ini bukan sekadar tiang listrik, ini bukti bagaimana daerah kami diperlakukan. Kalau dalam waktu dekat tidak ada tim yang turun, saya sendiri yang akan datang ke kantor mereka.!" ujar Reydo, menegaskan sikap siap bergeraknya.

‎Warga menuntut agar PLN dan instansi terkait turun segera, melakukan pengecekan, dan memindahkan tiang tersebut sesegera mungkin sebelum terjadi bencana yang sebenarnya bisa dicegah.

‎Masyarakat Muara Kampung Bungin berharap suara keras ini akhirnya membuka mata pihak-pihak yang selama ini lamban merespons. Karena bagi mereka, keselamatan bukan permintaan, tapi hak hidup yang harus dijamin negara. (NN)*

IMG-20251130-WA0005

Suara Nelayan Muara Kampung Bungin Makin Pedas: “Kalau Persoalan Ini Tak Diselesaikan, Lalu Untuk Apa Ada Staf Ahli?”

Muara Kampung Bungin

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Gelombang kekecewaan kembali datang dari nelayan Muara Kampung Bungin. Tahun demi tahun mereka bertahan di tengah abrasi yang menggerus rumah, laut yang makin rusak, dan aktivitas jaring trawl serta penambangan pasir yang tak kunjung berhenti. Namun, yang terasa hanyalah janji—tanpa langkah nyata di lapangan.

‎Nama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kini disorot tajam oleh masyarakat hilir. Bukan karena kebencian, tapi karena harapan yang belum terjawab.

‎“Kalau Pak Dedi Mulyadi tidak mampu menyelesaikan persoalan nelayan Muara Kampung Bungin, lalu apa gunanya seluruh jajaran ahli di sekelilingnya?” ucap salah satu tokoh pemuda dengan nada getir.

‎Sorotan juga mengarah pada Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, yang disebut-sebut menjadi staf ahli gubernur. Bagi warga, nama Susi bukan sekadar pejabat—dia simbol keberanian dalam membela nelayan kecil. Rekam jejaknya memerangi perusakan laut dan melindungi nelayan tradisional masih membekas kuat.

‎“Kita semua tahu siapa Ibu Susi. Kita tahu keberpihakannya pada nelayan kecil. Justru karena itu kami bertanya: kalau orang sepeduli beliau berada di lingkaran gubernur, kenapa persoalan kami masih dibiarkan menggantung?” lanjutnya.

‎Di Muara Kampung Bungin, bukan hanya pasir yang hilang digerus ombak—tapi juga harapan. Nelayan kehilangan tempat melaut, rumah mereka makin mundur, dan kehidupan semakin terjepit. Mereka sudah datang melapor, sudah berkali-kali bersuara, bahkan mendatangi posko pengaduan. Namun, langkah nyata belum juga terlihat.

‎Masyarakat hilir menegaskan:
‎Mereka tidak membutuhkan pidato—mereka butuh tindakan.
‎Mereka tidak menuntut keajaiban—mereka menuntut kehadiran.

‎“Ini soal perut, soal masa depan anak-anak kami. Kalau pemerintah provinsi benar-benar peduli, turunlah. Lihat sendiri bagaimana kami hidup di tepi laut yang semakin hilang,” tutup sang tokoh pemuda. (RCF)*

IMG-20251130-WA0036

Anniversary ke-5 Tahun, Media LabrakNews Terus Berkembang dan Menjadi Media yang Menumbuhkan Iklim Jurnalisme

Jendela Jurnalis Karawang JABAR Perayaan Aniversary ke-5 Media LabrakNews berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan di kantor redaksi LabrakNews pada Sabtu siang. Momen ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi para tokoh media, rekan-rekan jurnalis, hingga para CO dari berbagai media di Kabupaten Karawang yang turut hadir memberikan dukungan.

Sejak acara dimulai, suasana terlihat akrab dan cair. Para tamu undangan saling menyapa, berbincang mengenai perkembangan media lokal, hingga berbagi pengalaman seputar dunia jurnalistik yang terus berkembang. Kehadiran banyak insan media ini menunjukkan bahwa Labraknews memiliki tempat tersendiri di kalangan pekerja pers Karawang.

Dalam sambutannya, Bang Dacek, selaku Chief Officer (CO) LabrakNews, menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya. Menurutnya, usia lima tahun bukan perjalanan yang singkat, apalagi bagi media yang terus berupaya menjaga konsistensi dan integritas di tengah dinamika pemberitaan saat ini.

“Alhamdulillah, kita bisa sampai di usia lima tahun ini. Terima kasih kepada seluruh rekan media, para tokoh, dan semua yang selalu mendukung. Sesuai slogan kami, Jelas Tandas Berintegritas, kami akan terus berusaha menghadirkan informasi yang benar, jelas, dan punya manfaat bagi masyarakat,” ujar Bang Dacek yang disambut tepuk tangan tamu undangan.

Acara ini juga menjadi wadah bertukar pikiran tentang peran media lokal, tantangan digitalisasi, hingga pentingnya kolaborasi antar redaksi. Beberapa CO media yang hadir turut menyampaikan harapan agar LabrakNews terus berkembang dan menjadi salah satu media yang menumbuhkan iklim jurnalisme yang sehat di Karawang.

Selain sambutan, acara diisi dengan ramah tamah, obrolan santai, serta sesi sharing mengenai pengalaman peliputan di lapangan. Momen pemotongan tumpeng menjadi simbol syukur dan doa agar LabrakNews semakin kuat, maju, dan tetap menjadi bagian dari perkembangan informasi di daerah.

Tak lupa, sesi foto bersama menutup acara yang berlangsung sederhana namun penuh makna ini. Para tamu pulang dengan senyuman, membawa harapan agar kolaborasi antar media di Karawang dapat terus terjalin dengan baik.

Di usia lima tahun ini, LabrakNews menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi media yang dekat dengan masyarakat serta mengutamakan integritas dalam setiap pemberitaan. Dengan dukungan berbagai pihak, LabrakNews berharap dapat terus memberi warna di dunia jurnalistik Karawang dan tetap menjadi sumber informasi yang dipercaya publik.(Red)

IMG-20251129-WA0006

Jerit Warga Muara Kampung Bungin, Muara Gembong

Muara Kampung Bungin, Muara Gembong

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Di Muara Kampung Bungin, Muara Gembong, suara laut kini berubah menjadi keluhan yang tak lagi bisa disembunyikan. Ombak yang setiap hari menghantam pantai membawa cerita yang sama, tanah terus hilang, muara makin dangkal, dan kehidupan nelayan semakin berat. Abrasi merenggut daratan, penambangan pasir merusak dasar laut, sementara alat tangkap cantrang menghabisi biota yang menjadi sumber nafkah warga.

‎Di tengah keadaan yang semakin menyesakkan ini, seorang tokoh pemuda setempat, Reydo, menyampaikan suara hati yang mewakili seluruh masyarakat muara kampung bungin.

‎Dengan nada tegas namun penuh rasa kecewa, ia berkata, “Saya sudah melaporkan persoalan ini. Bila dalam satu bulan tidak ada yang turun melihat kondisi kami, saya akan kembali datang ke posko pengaduan. Dan kali ini, mungkin saya akan mengajak masyarakat lainnya untuk ikut bersama saya. Kami ingin bisa bertemu langsung dengan Pak Dedi Mulyadi. Aya salam ti budak hilir, Pak… Ulah ukur di kota wae. Turun sakali-kali ka hilir, ka tempat kami nu ayeuna lembur na kuat beak ku abrasi,” tuturnya.

‎Reydo menegaskan bahwa perjuangan ini bukan untuk kepentingan pribadi. Ini tentang hidup orang banyak—tentang laut yang semakin rusak, tentang kampung yang perlahan hilang, tentang masa depan anak-anak pesisir yang terancam.

‎Ia melanjutkan dengan suara bergetar, “Muara kami dangkal, pasir terus dikeruk, laut kami rusak. Kami bukan minta kemewahan, kami hanya minta diperhatikan. Masyarakat kota selalu jadi prioritas, tapi kami di hilir seakan tidak dianggap. Padahal laut inilah yang memberi makan kami setiap hari.”

‎Harapan warga kini tertuju pada pemerintah dan pihak terkait agar segera turun tangan. Mereka ingin melihat tindakan nyata—bukan hanya janji, bukan hanya rapat yang tak menyentuh akar masalah.

‎Karena bagi mereka, Muara Gembong bukan sekadar wilayah pesisir. Ini rumah, ini tanah kelahiran, dan ini tempat hidup yang sedang mereka pertahankan mati-matian. (NN)*

IMG-20251129-WA0038

PLN Peduli Bersama Forum DAS Cilamaya Tanam 20 Ribu Mangrove

Jendela Jurnalis Karawang JABAR PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Barat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan FORDAS Cilamaya, menanam 20 ribu bibit mangrove di pesisir utara Karawang dalam rangka memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia 2025. Kegiatan ini digelar serentak di berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertema PLN Peduli, Jumat (28/11/2025).

General Manager PLN UID Jawa Barat, Sugeng Widodo, dalam sambutannya mengatakan, penanaman mangrove menjadi langkah penting menjaga garis pantai Jawa Barat yang terus terdampak abrasi. Meski luas area tanam di Karawang relatif kecil, Sugeng berharap kegiatan itu dapat menjadi gerakan besar dalam menjaga lingkungan pesisir.

"Walaupun hanya sekitar dua hektare, kita berharap gerakan kecil ini menjadi gelombang besar penanaman mangrove di seluruh wilayah pesisir. Mangrove adalah benteng alam penjaga lautan," ujarnya.

Sugeng menambahkan, selain penanaman mangrove, PLN juga melaksanakan pelatihan perhitungan karbon bagi masyarakat serta program perawatan tanaman selama enam bulan. Seluruh rangkaian kegiatan merupakan bagian dari komitmen PLN mendukung konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Acara tersebut turut dihadiri Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat, Rizaldi Arvian, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Aisyah Diah, Kepala Dinas Perkebunan, Ganjar Yudiansyah, Kepala Dinas Kehutanan, Dodi Tardian, serta perwakilan komunitas Forum DAS Cilamaya dan unsur Pemerintahan Kecamatan Cilamaya Wetan.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsihmengungkapkan, bahwa penanaman mangrove ini merupakan bagian dari upaya menangani 12 juta hektare lahan kritis di Indonesia. Ia menyebut abrasi di wilayah pantai Jawa Barat telah mencapai lebih dari 300 hektare dalam beberapa tahun terakhir.

"Kegiatan hari ini bukan hanya simbolis. Ini bentuk sinergi seluruh pihak dalam mengatasi degradasi lingkungan. Garis pantai Jawa Barat panjang, PR kita besar, tapi kolaborasi seperti ini sangat berarti," katanya.

Ketua Komisi IV DPRD Jabar, Rizaldi Arvian menyampaikan, apresiasi kepada PLN atas inisiatif menanam 20 ribu bibit mangrove di Karawang Utara, salah satu daerah yang mengalami abrasi paling masif di Jawa Barat.

"Ini bukan sekadar kegiatan seremoni. Dampaknya mungkin tidak terasa besok, tetapi bertahun-tahun ke depan anak cucu kita akan merasakan manfaatnya. Karawang Utara sudah beberapa kali kehilangan akses jalan desa akibat abrasi," terang Rizaldi.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk turut menjaga lingkungan melalui langkah kecil di tingkat rumah tangga, termasuk tidak membuang sampah sembarangan dan mendukung upaya rehabilitasi pesisir.

Pada akhir acara, dilakukan simbolis penyerahan bibit mangrove, mangga, dan kelapa kepada Ketua Forum DAS Cilamaya, Muslim Hafiz, sebagai bentuk kolaborasi pelestarian lingkungan. Kegiatan ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada PLN dan para mitra yang terlibat, dilanjut dengan penanaman secara simbolis di pesisir pantai Muara Baru, Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang. (Red)

IMG-20251128-WA0006

IPSI Karawang Juara Umum di Kejurda Jabar 2025, Namun Dipandang Sebelah Mata

Jendela Jurnalis Karawang JABAR Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Karawang terus menunjukkan prestasinya pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) Pelajar IV Tingkat Remaja Provinsi Jawa Barat 2025.

Namun sangat disayangkan peraihan prestasi pada kejurda tersebut seperti dipandang sebelah mata oleh daerahnya sendiri.

Ketua IPSI Kabupaten Karawang yang juga anggota DPRD provinsi Jawabarat mengatakan bahwa dalam pembinaan atlet terus dioptimalkan meskipun harus berjuang di tengah keterbatasan anggaran.

Dea Eka Rizaldi, menegaskan bahwa komitmen dan semangat serta kemampuan para atlit tidak terbatas adalah kunci utama di balik setiap prestasi yang diraih.walaupun dengan dana terbatas Ia yakin kemampuan atlit IPSI kabupaten Karawang sudah optimal.

Saat dihubungi melalui pesan Whatsapp pada hari Kamis 27 November 2025, Dea Eka Rizaldi membeberkan rahasia pengelolaan organisasi yang berfokus pada hasil.

"Rahasia kami adalah komitmen yang menciptakan rasa semangat baru. Walaupun dengan dana terbatas, saya yakin kemampuan atlet kita tak terbatas," ungkap Dea

Menurutnya, pencapaian di dunia persilatan tidak ada yang instan. Semua dilakukan secara terencana, mulai dari pembenahan internal hingga merancang program peningkatan prestasi.

"Jika pengelolaannya baik, saya yakin hasil itu pasti baik," tegasnya.

Dea menyoroti pentingnya latihan yang komprehensif, tidak hanya fisik, tetapi juga pengembangan mental atlet. Hal ini dilakukan salah satunya dengan memperbanyak jam tanding.

Ia menyambut gembira hasil dari pembinaan tersebut, di mana beberapa atlet yang meraih emas di usia pelajar tahun lalu, kini sudah siap untuk naik kelas ke kategori dewasa.

"Beberapa atlet kita tahun depan sudah berusia 17 tahun dan sudah bisa diturunkan di kelas dewasa. Saya tanya ke mereka siap buat turun di dewasa, jawabannya sangat siap. Luar biasa mental anak-anak kita." kata Dea.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut, porsi latihan akan ditingkatkan agar semua aspek dalam diri atlet dapat berkembang dan terlihat.

Meskipun menyatakan sanggup menanggung beban operasional dan pembinaan, Dea Eka Rizaldi menyuarakan satu harapan penting, yakni terkait penghormatan dan apresiasi bagi atlet berprestasi yang telah membawa nama harum Kabupaten Karawang.

"Ada hal yang tidak bisa saya berikan untuk mereka yang berprestasi, yaitu penghormatan atas atlet-atlet kita yang sudah berprestasi membawa nama Karawang. Itu bukan porsi saya untuk memberikan penghormatan untuk atas nama Karawang," keluhnya.

Saat ditanya mengenai pihak-pihak yang kurang peduli terhadap prestasi atlet di Karawang, Dea melontarkan pernyataan yang cukup menohok

Ia menyiratkan kekecewaannya terhadap pihak-pihak yang tidak memberikan dukungan dan Ia pun ungkapkan kekecewaannya pada Panitia kejurda Pencak Silat antar pelajar Jawabarat.

"Untuk saat ini saya berkolaborasi dengan Tuhan saja, insya Allah enggak akan kecewa. Beda (jika) kolaborasi dengan manusia, akhirnya pasti kecewa juga, dan kita juara umum ke 3 dari 24 kabupaten/kota , juara umum 1 dan 2 dapet piala dan uang pembinaan , juara umum 3 ga dapat apa-apa, ini kan kejuaraan daerah antar pelajar Jawa Barat, kenapa bisa gitu ya?" tambah Dea dengan nada kecewa.

"Manusia yang saya maksud adalah manusia yang tidak peduli dengan prestasi anak-anak Karawang dalam semua bidang, khususnya pencak silat," tambahnya, tanpa menyebutkan nama institusi atau individu secara spesifik.

Mengenai alasan ketidakpedulian tersebut, Dea memilih untuk tidak berkomentar lebih lanjut, dan menyerahkan pertanyaan itu langsung kepada pihak yang bersangkutan.

"No coment , silahkan tanya kepada yang bersangkutan , kenapa mereka melakukan itu," tutupnya.(Red)

IMG-20251127-WA0021

Tokoh Pemuda Muara Bungin Laporkan Permasalahan Abrasi, Penambang Pasir dan Nelayan Jaring Arad ke Posko Pengaduan KDM Lembur Pakuan

Proses pengaduan di Lembur Pakuan

Jendela Jurnalis Subang, JABAR - Situasi lingkungan di wilayah pesisir Muara Kampung Bungin, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong semakin mengkhawatirkan. Abrasi yang kian parah, maraknya aktivitas penambangan pasir, serta penggunaan jaring arad oleh sebagian nelayan menjadi tiga persoalan utama yang membuat masyarakat menyampaikan laporan resmi ke Posko Pengaduan KDM Lembur Pakuan.

‎Laporan ini disampaikan oleh perwakilan warga pesisir, Reydo, yang datang langsung untuk menjelaskan kondisi lapangan yang semakin tidak terkendali.

‎Abrasi Menggerus Daratan dan Mengancam Permukiman

‎Abrasi di Muara Kampung Bungin telah mencapai titik kritis. Garis pantai terus mundur, menggerus permukiman, tambak, dan area aktivitas nelayan. Air laut semakin mudah masuk ke daratan saat pasang besar, menyebabkan kerusakan fisik sekaligus kerugian ekonomi bagi masyarakat.

‎Warga menilai kondisi ini tidak lagi bisa ditanggulangi secara mandiri. Hilangnya mangrove, gelombang besar, dan perubahan arus laut membuat abrasi terus bergerak tanpa henti.

‎Penambangan Pasir Dinilai Memperparah Kerusakan

‎Selain abrasi, masyarakat juga melaporkan adanya aktivitas penambangan pasir di beberapa titik muara yang diduga menjadi salah satu penyebab percepatan kerusakan lingkungan. Aktivitas tersebut mengganggu struktur dasar muara, memicu pendangkalan, sekaligus memperlemah tanah di sisi pesisir.

‎Warga khawatir penambangan pasir yang tidak terkendali akan menyebabkan wilayah pesisir kehilangan daya dukungnya dan mempercepat hilangnya permukiman.

‎Nelayan Jaring Arad Mengganggu Ekosistem dan Nelayan Tradisional

‎Penggunaan jaring arad turut menjadi keluhan utama. Warga dan nelayan tradisional menyampaikan bahwa arad merusak ekosistem dasar laut, menghabiskan biota kecil, dan menurunkan hasil tangkap nelayan lainnya.

‎Konflik antar-nelayan mulai muncul akibat penggunaan alat tangkap yang dianggap merusak, sehingga warga meminta adanya penertiban dan aturan yang ditegakkan secara tegas.

‎Kutipan Reydo Saat Melapor ke KDM

‎Dalam penyampaiannya di Posko Pengaduan KDM Lembur Pakuan, Reydo menjelaskan tiga persoalan yang kini membebani masyarakat pesisir.

‎“Kami datang untuk melaporkan tiga hal sekaligus: abrasi yang sudah sangat parah, aktivitas penambangan pasir, dan penggunaan jaring arad. Semuanya saling berkaitan dan semuanya merusak kehidupan kami di pesisir,” tegas Reydo.

‎Ia menambahkan bahwa warga sudah terlalu lama menanggung dampak kerusakan tanpa adanya penanganan tegas.

‎“Abrasi menghabiskan daratan, penambangan pasir mempercepat kerusakan, dan jaring arad menghancurkan laut tempat kami mencari makan. Kami butuh solusi nyata, bukan hanya pendataan. Kami meminta ini segera ditindaklanjuti,” tutur Reydo.

‎KDM Akan Meneruskan Laporan ke Instansi Terkait

‎Pihak Posko Pengaduan KDM memastikan bahwa seluruh laporan warga telah dicatat dan akan diteruskan kepada instansi terkait, termasuk pemerintah daerah, dinas lingkungan hidup, dinas perikanan, dan aparat penegak hukum.

‎KDM juga berkomitmen mengawal proses tindak lanjut agar persoalan ini mendapat perhatian serius.

‎Sementara itu, warga juga mendesak pengawasan dan penanganan nyata dari pemerintah.

‎Atas dasar aduan tersebut, masyarakat berharap pemerintah segera melakukan beberapa hal diantaranya;

‎- Membuat penanganan darurat abrasi

‎- Menertibkan dan menghentikan penambangan pasir

‎- Mengontrol dan membina nelayan pengguna jaring arad

‎- Melakukan rehabilitasi mangrove dan penguatan garis pantai

‎- Melakukan patroli dan pengawasan rutin di wilayah muara. (NN)*