Dari Korea ke Kampung Halaman: Purna Migran Dirikan Koperasi MBG, Gerakkan Ekonomi Keluarga Pekerja Migran

Jendela Jurnalis NASIONAL - Upaya pemberdayaan purna pekerja migran kembali mendapat sorotan publik setelah Koperasi Mawar Berkah Grup (MBG) menunjukkan kiprahnya dalam menggerakkan ekonomi keluarga pekerja migran di berbagai daerah. Di balik gerakan ini, ada nama Didi Kusnadi, purna migran Korea Selatan yang pulang ke Indonesia pada 2014 dan kini menjadi salah satu penggerak utama koperasi dan jaringan Dapur MBG.
Didi, yang aktif di komunitas Buminu (Buruh Migran Nahdlatul Ulama), menegaskan bahwa mayoritas pemilik dan pengelola Dapur MBG berasal dari kalangan Nahdliyin. Semangat pengabdian khas warga NU membuat gerakan ini berkembang menjadi jaringan dapur pelayanan masyarakat, pelatihan kuliner, hingga sertifikasi chef melalui Yayasan Mawar Bina Insani (MBI) serta lembaga pelatihan di bawahnya.
“Bukannya saya tidak pernah gagal. Usaha itu pasti ada risiko gagal, dan saya mengalaminya. Tapi Rahmat Allah Ta'ala lebih luas daripada rasa takut. Terus melangkah adalah cara saya melupakan kegagalan,” ujar Didi.
Usai kembali dari Korea, Didi memulai usaha Mawar Fashion dengan moto “Indahnya Berbusana Muslim.” Kata "Mawar", baginya, adalah akronim dari “Memanfaatkan Waktu Agar Allah Ridho.” Dari usaha kecil itulah ia merintis Koperasi Mawar Berkah Grup (MBG) yang kini menjadi pemasok utama kebutuhan berbagai Dapur MBG di sejumlah wilayah.
Menurut Didi, program Dapur MBG tidak hanya memberikan manfaat langsung bagi masyarakat lokal, tetapi juga menjadi penopang ekonomi keluarga pekerja migran.
“Banyak teman migran yang terbantu. Ada yang bekerja di Malaysia bercerita, karena ada program seperti ini, kebutuhan anak di rumah jadi lebih ringan. Ia bisa fokus bekerja dan menabung untuk membangun rumah keluarganya,” tuturnya.

Koperasi MBG terus meningkatkan profesionalitas, mulai dari pelatihan chef, sertifikasi kompetensi, hingga pemenuhan standar halal dan higienis. Dalam beberapa kegiatan terakhir, asesor dari LSP Pariwisata Maestro bahkan ikut terlibat menguji peserta untuk memastikan kualitas tenaga dapur.
Didi menegaskan bahwa apa yang dibangun bersama para purna migran ini bukan sekadar program bantuan pangan, tetapi wujud nyata semangat gotong royong ala NU dan kontribusi purna migran bagi pembangunan masyarakat desa.
“Kami membuktikan bahwa purna migran bisa pulang, bangkit, dan memberi manfaat. Inilah bentuk bakti kami,” pungkasnya.
Koperasi MBG yang tumbuh dari tangan para purna migran kini dipandang sebagai model pemberdayaan yang selaras dengan program pemerintah dalam memperkuat ekonomi keluarga pekerja migran, sebuah contoh bahwa kepulangan bukan akhir, tetapi awal dari kontribusi yang lebih besar. (ALN)*
