Bulan: November 2025

IMG-20251130-WA0005

Suara Nelayan Muara Kampung Bungin Makin Pedas: “Kalau Persoalan Ini Tak Diselesaikan, Lalu Untuk Apa Ada Staf Ahli?”

Muara Kampung Bungin

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Gelombang kekecewaan kembali datang dari nelayan Muara Kampung Bungin. Tahun demi tahun mereka bertahan di tengah abrasi yang menggerus rumah, laut yang makin rusak, dan aktivitas jaring trawl serta penambangan pasir yang tak kunjung berhenti. Namun, yang terasa hanyalah janji—tanpa langkah nyata di lapangan.

‎Nama Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kini disorot tajam oleh masyarakat hilir. Bukan karena kebencian, tapi karena harapan yang belum terjawab.

‎“Kalau Pak Dedi Mulyadi tidak mampu menyelesaikan persoalan nelayan Muara Kampung Bungin, lalu apa gunanya seluruh jajaran ahli di sekelilingnya?” ucap salah satu tokoh pemuda dengan nada getir.

‎Sorotan juga mengarah pada Susi Pudjiastuti, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, yang disebut-sebut menjadi staf ahli gubernur. Bagi warga, nama Susi bukan sekadar pejabat—dia simbol keberanian dalam membela nelayan kecil. Rekam jejaknya memerangi perusakan laut dan melindungi nelayan tradisional masih membekas kuat.

‎“Kita semua tahu siapa Ibu Susi. Kita tahu keberpihakannya pada nelayan kecil. Justru karena itu kami bertanya: kalau orang sepeduli beliau berada di lingkaran gubernur, kenapa persoalan kami masih dibiarkan menggantung?” lanjutnya.

‎Di Muara Kampung Bungin, bukan hanya pasir yang hilang digerus ombak—tapi juga harapan. Nelayan kehilangan tempat melaut, rumah mereka makin mundur, dan kehidupan semakin terjepit. Mereka sudah datang melapor, sudah berkali-kali bersuara, bahkan mendatangi posko pengaduan. Namun, langkah nyata belum juga terlihat.

‎Masyarakat hilir menegaskan:
‎Mereka tidak membutuhkan pidato—mereka butuh tindakan.
‎Mereka tidak menuntut keajaiban—mereka menuntut kehadiran.

‎“Ini soal perut, soal masa depan anak-anak kami. Kalau pemerintah provinsi benar-benar peduli, turunlah. Lihat sendiri bagaimana kami hidup di tepi laut yang semakin hilang,” tutup sang tokoh pemuda. (RCF)*

IMG-20251130-WA0036

Anniversary ke-5 Tahun, Media LabrakNews Terus Berkembang dan Menjadi Media yang Menumbuhkan Iklim Jurnalisme

Jendela Jurnalis Karawang JABAR Perayaan Aniversary ke-5 Media LabrakNews berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan di kantor redaksi LabrakNews pada Sabtu siang. Momen ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi bagi para tokoh media, rekan-rekan jurnalis, hingga para CO dari berbagai media di Kabupaten Karawang yang turut hadir memberikan dukungan.

Sejak acara dimulai, suasana terlihat akrab dan cair. Para tamu undangan saling menyapa, berbincang mengenai perkembangan media lokal, hingga berbagi pengalaman seputar dunia jurnalistik yang terus berkembang. Kehadiran banyak insan media ini menunjukkan bahwa Labraknews memiliki tempat tersendiri di kalangan pekerja pers Karawang.

Dalam sambutannya, Bang Dacek, selaku Chief Officer (CO) LabrakNews, menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya. Menurutnya, usia lima tahun bukan perjalanan yang singkat, apalagi bagi media yang terus berupaya menjaga konsistensi dan integritas di tengah dinamika pemberitaan saat ini.

“Alhamdulillah, kita bisa sampai di usia lima tahun ini. Terima kasih kepada seluruh rekan media, para tokoh, dan semua yang selalu mendukung. Sesuai slogan kami, Jelas Tandas Berintegritas, kami akan terus berusaha menghadirkan informasi yang benar, jelas, dan punya manfaat bagi masyarakat,” ujar Bang Dacek yang disambut tepuk tangan tamu undangan.

Acara ini juga menjadi wadah bertukar pikiran tentang peran media lokal, tantangan digitalisasi, hingga pentingnya kolaborasi antar redaksi. Beberapa CO media yang hadir turut menyampaikan harapan agar LabrakNews terus berkembang dan menjadi salah satu media yang menumbuhkan iklim jurnalisme yang sehat di Karawang.

Selain sambutan, acara diisi dengan ramah tamah, obrolan santai, serta sesi sharing mengenai pengalaman peliputan di lapangan. Momen pemotongan tumpeng menjadi simbol syukur dan doa agar LabrakNews semakin kuat, maju, dan tetap menjadi bagian dari perkembangan informasi di daerah.

Tak lupa, sesi foto bersama menutup acara yang berlangsung sederhana namun penuh makna ini. Para tamu pulang dengan senyuman, membawa harapan agar kolaborasi antar media di Karawang dapat terus terjalin dengan baik.

Di usia lima tahun ini, LabrakNews menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi media yang dekat dengan masyarakat serta mengutamakan integritas dalam setiap pemberitaan. Dengan dukungan berbagai pihak, LabrakNews berharap dapat terus memberi warna di dunia jurnalistik Karawang dan tetap menjadi sumber informasi yang dipercaya publik.(Red)

IMG-20251130-WA0015

Heryanto Resmi Dilantik Menjadi Ketua Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Jakarta Periode 2025-2030

Jendela Jurnalis Jakarta Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Jakarta menggelar pelantikan pengurus baru yang berlangsung di Hotel Grandhika, Jakarta. Pada acara tersebut, Heryanto resmi dilantik sebagai Ketua AMKI Jakarta untuk periode 2025-2030.

Pelantikan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting dari berbagai sektor media, pejabat pemerintahan baik Kementerian PUPR maupun perwakilan Pemprov DKI Jakarta, Kabag Mitra Karopenmas Divisi Humas Polri dan anggota AMKI yang datang dari berbagai daerah di Jakarta,29/11/2025.

Dalam acara yang dihadiri lebih dari 100 undangan, para peserta juga menyaksikan pelantikan pengurus baru yang bertujuan untuk memperkuat peran media dalam menghadapi tantangan perkembangan industri media yang semakin pesat.

Dalam pidatonya, Heryanto menyampaikan komitmennya untuk mengoptimalkan peran AMKI dalam menciptakan ekosistem media yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia.

Sebagai Ketua AMKI Jakarta, dia menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak dalam menghadapi tantangan industri media yang terus berkembang, terutama dalam era konvergensi media.

"AMKI harus menjadi wadah yang tidak hanya menghubungkan media konvensional dan digital, tetapi juga memperkuat sinergi antar media, pemerintah, dan masyarakat. Dengan kolaborasi yang solid, kita bisa menghadapai tantangan besar yang ada di industri media dan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan bangsa," ujar Heryanto dalam sambutannya.

Sementara itu, Ketua Umum AMKI Pusat, Tundra Meliala yang hadir dalam acara pelantikan ini, mengungkapkan rasa optimisme atas terpilihnya Heryanto sebagai ketua baru AMKI Jakarta.

Dalam pesannya, ia mengingatkan, tentang pentingnya media konvergensi dalam mengintegrasikan berbagai platform komunikasi yang ada, termasuk televisi, radio, media cetak, dan digital, agar dapat memberikan informasi yang lebih cepat, akurat, dan bermanfaat bagi publik.

"Peran AMKI sangat penting dalam mendorong media untuk tetap relevan di tengah perubahan teknologi dan kebiasaan konsumen yang semakin dinamis. Kami berharap, Heryanto bersama jajaran pengurus AMKI Jakarta dapat menjalankan amanah ini dengan penuh tanggung jawab dan inovasi," tambahnya.

Dengan dilantiknya pengurus baru AMKI Jakarta, banyak pihak berharap agar AMKI dapat terus berperan aktif dalam mengedukasi publik tentang pentingnya media yang berkualitas serta menjaga independensi dan etika jurnalistik.

Selain itu, diharapkan pula agar AMKI dapat memperkuat posisi media konvergensi sebagai garda terdepan dalam menyajikan informasi yang akurat dan dapat dipercaya, terutama di era digital yang serba cepat ini.

Sebagai ketua baru, Heryanto berjanji untuk terus memperjuangkan kepentingan anggota AMKI, memfasilitasi peningkatan kualitas media, serta membangun jaringan yang lebih luas dengan berbagai pemangku kepentingan dalam industri media.

Dalam acara pelantikan AMKI Jakarta beberapa sponsor ikut mendukung terlaksananya acara tersebut, diantaranya Pegadaian, J&T Cargo, Dharma Jaya, PUPR, SHARP, Sucofindo, Kokola, Frisian Flag, Dompet Dhuafa, Ancol dan beberapa pihak lainnya.

Pelantikan AMKI Jakarta ini diakhiri dengan ramah tamah dan diskusi tentang langkah-langkah konkret yang dapat diambil untuk meningkatkan peran media konvergensi di Indonesia. Dengan semangat baru yang dibawa oleh kepengurusan yang lebih baik dan berkelanjutan.(Red)

IMG-20251129-WA0062

Semangat Kebersamaan,AMKI Karawang Siap Melangkah Lebih Solid dan Bermanfaat Bagi Publik

Jendela Jurnalis Karawang JABAR Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Kabupaten Karawang resmi membuka babak baru kepengurusan periode 2025–2028 dengan cara yang unik dan penuh filosofi.

Menghindari nuansa formal yang kaku, AMKI memilih Warung Makan Yeti sebuah tempat makan sederhana di belakang Kodim 0604/Karawang sebagai lokasi Rapat Minggon pada Sabtu (29/11/2025) pukul 10.00 WIB.

Pemilihan tempat sederhana ini menjadi simbol kuat bahwa semangat kebersamaan, ketulusan, dan gotong royong jauh lebih utama daripada kemewahan fasilitas.

Suasana hangat dan akrab yang tercipta justru menghadirkan diskusi produktif penuh kekeluargaan.

Pertemuan ini difokuskan pada finalisasi Program Kerja AMKI Karawang untuk tiga tahun ke depan. Dalam kesempatan tersebut, Ketua AMKI Karawang Endang Suryana yang akrab disapa Endang Nupo mengungkapkan apresiasinya kepada pengurus dan anggota yang hadir.

“Terima kasih atas kehadiran jajaran pengurus dan anggota AMKI Karawang. Semoga agenda besar organisasi kita dapat terwujud berkat dukungan dan kerja nyata yang solid,” ujar Endang Nupo penuh optimisme.

Pernyataan itu disambut antusias para peserta rapat. Semangat kolektif ini menegaskan bahwa AMKI Karawang tak hanya menjadi wadah berkumpulnya para insan media, melainkan juga institusi yang ingin memberi kontribusi nyata bagi pembangunan daerah kabupaten Karawang.

Endang Nupo juga menyampaikan rencana besar di tahun 2026, yaitu mendorong pengurus dan anggota untuk berinovasi salah satunya di sektor perikanan dan peternakan, yang bertujuan untuk kesejahteraan.

“Tahun 2026 kita akan mulai langkah nyata untuk meningkatkan kesejahteraan anggota AMKI melalui inovasi di bidang usaha salah satunya perikanan dan peternakan. Insyaa Allah program ini akan membawa manfaat besar bagi keluarga besar AMKI,” tegasnya.

Rapat Minggon kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin Sekretaris AMKI Karawang, Rd Cholil Arief. Doa yang terlantun menghadirkan nuansa religius serta harapan besar bagi kelancaran langkah AMKI ke depan.

“Kun fayakun,” ucap Rd Cholil, mengingatkan bahwa segala harapan akan terwujud selama diiringi usaha dan keteguhan hati.

Warung Sederhana, Komitmen Besar

Rapat Minggon di Warung Makan Yeti ini menjadi bukti bahwa kesederhanaan bukan penghalang untuk melahirkan gagasan besar. Di tempat yang jauh dari kesan mewah itu, AMKI Karawang justru merumuskan berbagai program strategis untuk memperkuat kolaborasi media dan meningkatkan kualitas informasi bagi masyarakat.

Dengan semangat baru, AMKI Karawang optimis menyongsong periode kepengurusan 2025–2028 sebagai momentum meningkatkan profesionalisme, mendorong inovasi, dan menghadirkan kontribusi nyata bagi perkembangan daerah.

AMKI Karawang siap melangkah lebih solid, lebih visioner, dan lebih bermanfaat bagi publik.(Red)

IMG-20251129-WA0006

Jerit Warga Muara Kampung Bungin, Muara Gembong

Muara Kampung Bungin, Muara Gembong

Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR - Di Muara Kampung Bungin, Muara Gembong, suara laut kini berubah menjadi keluhan yang tak lagi bisa disembunyikan. Ombak yang setiap hari menghantam pantai membawa cerita yang sama, tanah terus hilang, muara makin dangkal, dan kehidupan nelayan semakin berat. Abrasi merenggut daratan, penambangan pasir merusak dasar laut, sementara alat tangkap cantrang menghabisi biota yang menjadi sumber nafkah warga.

‎Di tengah keadaan yang semakin menyesakkan ini, seorang tokoh pemuda setempat, Reydo, menyampaikan suara hati yang mewakili seluruh masyarakat muara kampung bungin.

‎Dengan nada tegas namun penuh rasa kecewa, ia berkata, “Saya sudah melaporkan persoalan ini. Bila dalam satu bulan tidak ada yang turun melihat kondisi kami, saya akan kembali datang ke posko pengaduan. Dan kali ini, mungkin saya akan mengajak masyarakat lainnya untuk ikut bersama saya. Kami ingin bisa bertemu langsung dengan Pak Dedi Mulyadi. Aya salam ti budak hilir, Pak… Ulah ukur di kota wae. Turun sakali-kali ka hilir, ka tempat kami nu ayeuna lembur na kuat beak ku abrasi,” tuturnya.

‎Reydo menegaskan bahwa perjuangan ini bukan untuk kepentingan pribadi. Ini tentang hidup orang banyak—tentang laut yang semakin rusak, tentang kampung yang perlahan hilang, tentang masa depan anak-anak pesisir yang terancam.

‎Ia melanjutkan dengan suara bergetar, “Muara kami dangkal, pasir terus dikeruk, laut kami rusak. Kami bukan minta kemewahan, kami hanya minta diperhatikan. Masyarakat kota selalu jadi prioritas, tapi kami di hilir seakan tidak dianggap. Padahal laut inilah yang memberi makan kami setiap hari.”

‎Harapan warga kini tertuju pada pemerintah dan pihak terkait agar segera turun tangan. Mereka ingin melihat tindakan nyata—bukan hanya janji, bukan hanya rapat yang tak menyentuh akar masalah.

‎Karena bagi mereka, Muara Gembong bukan sekadar wilayah pesisir. Ini rumah, ini tanah kelahiran, dan ini tempat hidup yang sedang mereka pertahankan mati-matian. (NN)*

IMG-20251129-WA0038

PLN Peduli Bersama Forum DAS Cilamaya Tanam 20 Ribu Mangrove

Jendela Jurnalis Karawang JABAR PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Barat bersama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan FORDAS Cilamaya, menanam 20 ribu bibit mangrove di pesisir utara Karawang dalam rangka memperingati Hari Menanam Pohon Indonesia 2025. Kegiatan ini digelar serentak di berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) bertema PLN Peduli, Jumat (28/11/2025).

General Manager PLN UID Jawa Barat, Sugeng Widodo, dalam sambutannya mengatakan, penanaman mangrove menjadi langkah penting menjaga garis pantai Jawa Barat yang terus terdampak abrasi. Meski luas area tanam di Karawang relatif kecil, Sugeng berharap kegiatan itu dapat menjadi gerakan besar dalam menjaga lingkungan pesisir.

"Walaupun hanya sekitar dua hektare, kita berharap gerakan kecil ini menjadi gelombang besar penanaman mangrove di seluruh wilayah pesisir. Mangrove adalah benteng alam penjaga lautan," ujarnya.

Sugeng menambahkan, selain penanaman mangrove, PLN juga melaksanakan pelatihan perhitungan karbon bagi masyarakat serta program perawatan tanaman selama enam bulan. Seluruh rangkaian kegiatan merupakan bagian dari komitmen PLN mendukung konservasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.

Acara tersebut turut dihadiri Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat, Rizaldi Arvian, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Aisyah Diah, Kepala Dinas Perkebunan, Ganjar Yudiansyah, Kepala Dinas Kehutanan, Dodi Tardian, serta perwakilan komunitas Forum DAS Cilamaya dan unsur Pemerintahan Kecamatan Cilamaya Wetan.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat, Ai Saadiyah Dwidaningsihmengungkapkan, bahwa penanaman mangrove ini merupakan bagian dari upaya menangani 12 juta hektare lahan kritis di Indonesia. Ia menyebut abrasi di wilayah pantai Jawa Barat telah mencapai lebih dari 300 hektare dalam beberapa tahun terakhir.

"Kegiatan hari ini bukan hanya simbolis. Ini bentuk sinergi seluruh pihak dalam mengatasi degradasi lingkungan. Garis pantai Jawa Barat panjang, PR kita besar, tapi kolaborasi seperti ini sangat berarti," katanya.

Ketua Komisi IV DPRD Jabar, Rizaldi Arvian menyampaikan, apresiasi kepada PLN atas inisiatif menanam 20 ribu bibit mangrove di Karawang Utara, salah satu daerah yang mengalami abrasi paling masif di Jawa Barat.

"Ini bukan sekadar kegiatan seremoni. Dampaknya mungkin tidak terasa besok, tetapi bertahun-tahun ke depan anak cucu kita akan merasakan manfaatnya. Karawang Utara sudah beberapa kali kehilangan akses jalan desa akibat abrasi," terang Rizaldi.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk turut menjaga lingkungan melalui langkah kecil di tingkat rumah tangga, termasuk tidak membuang sampah sembarangan dan mendukung upaya rehabilitasi pesisir.

Pada akhir acara, dilakukan simbolis penyerahan bibit mangrove, mangga, dan kelapa kepada Ketua Forum DAS Cilamaya, Muslim Hafiz, sebagai bentuk kolaborasi pelestarian lingkungan. Kegiatan ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada PLN dan para mitra yang terlibat, dilanjut dengan penanaman secara simbolis di pesisir pantai Muara Baru, Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang. (Red)

IMG-20251128-WA0006

IPSI Karawang Juara Umum di Kejurda Jabar 2025, Namun Dipandang Sebelah Mata

Jendela Jurnalis Karawang JABAR Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Karawang terus menunjukkan prestasinya pada Kejuaraan Daerah (Kejurda) Pelajar IV Tingkat Remaja Provinsi Jawa Barat 2025.

Namun sangat disayangkan peraihan prestasi pada kejurda tersebut seperti dipandang sebelah mata oleh daerahnya sendiri.

Ketua IPSI Kabupaten Karawang yang juga anggota DPRD provinsi Jawabarat mengatakan bahwa dalam pembinaan atlet terus dioptimalkan meskipun harus berjuang di tengah keterbatasan anggaran.

Dea Eka Rizaldi, menegaskan bahwa komitmen dan semangat serta kemampuan para atlit tidak terbatas adalah kunci utama di balik setiap prestasi yang diraih.walaupun dengan dana terbatas Ia yakin kemampuan atlit IPSI kabupaten Karawang sudah optimal.

Saat dihubungi melalui pesan Whatsapp pada hari Kamis 27 November 2025, Dea Eka Rizaldi membeberkan rahasia pengelolaan organisasi yang berfokus pada hasil.

"Rahasia kami adalah komitmen yang menciptakan rasa semangat baru. Walaupun dengan dana terbatas, saya yakin kemampuan atlet kita tak terbatas," ungkap Dea

Menurutnya, pencapaian di dunia persilatan tidak ada yang instan. Semua dilakukan secara terencana, mulai dari pembenahan internal hingga merancang program peningkatan prestasi.

"Jika pengelolaannya baik, saya yakin hasil itu pasti baik," tegasnya.

Dea menyoroti pentingnya latihan yang komprehensif, tidak hanya fisik, tetapi juga pengembangan mental atlet. Hal ini dilakukan salah satunya dengan memperbanyak jam tanding.

Ia menyambut gembira hasil dari pembinaan tersebut, di mana beberapa atlet yang meraih emas di usia pelajar tahun lalu, kini sudah siap untuk naik kelas ke kategori dewasa.

"Beberapa atlet kita tahun depan sudah berusia 17 tahun dan sudah bisa diturunkan di kelas dewasa. Saya tanya ke mereka siap buat turun di dewasa, jawabannya sangat siap. Luar biasa mental anak-anak kita." kata Dea.

Untuk memaksimalkan potensi tersebut, porsi latihan akan ditingkatkan agar semua aspek dalam diri atlet dapat berkembang dan terlihat.

Meskipun menyatakan sanggup menanggung beban operasional dan pembinaan, Dea Eka Rizaldi menyuarakan satu harapan penting, yakni terkait penghormatan dan apresiasi bagi atlet berprestasi yang telah membawa nama harum Kabupaten Karawang.

"Ada hal yang tidak bisa saya berikan untuk mereka yang berprestasi, yaitu penghormatan atas atlet-atlet kita yang sudah berprestasi membawa nama Karawang. Itu bukan porsi saya untuk memberikan penghormatan untuk atas nama Karawang," keluhnya.

Saat ditanya mengenai pihak-pihak yang kurang peduli terhadap prestasi atlet di Karawang, Dea melontarkan pernyataan yang cukup menohok

Ia menyiratkan kekecewaannya terhadap pihak-pihak yang tidak memberikan dukungan dan Ia pun ungkapkan kekecewaannya pada Panitia kejurda Pencak Silat antar pelajar Jawabarat.

"Untuk saat ini saya berkolaborasi dengan Tuhan saja, insya Allah enggak akan kecewa. Beda (jika) kolaborasi dengan manusia, akhirnya pasti kecewa juga, dan kita juara umum ke 3 dari 24 kabupaten/kota , juara umum 1 dan 2 dapet piala dan uang pembinaan , juara umum 3 ga dapat apa-apa, ini kan kejuaraan daerah antar pelajar Jawa Barat, kenapa bisa gitu ya?" tambah Dea dengan nada kecewa.

"Manusia yang saya maksud adalah manusia yang tidak peduli dengan prestasi anak-anak Karawang dalam semua bidang, khususnya pencak silat," tambahnya, tanpa menyebutkan nama institusi atau individu secara spesifik.

Mengenai alasan ketidakpedulian tersebut, Dea memilih untuk tidak berkomentar lebih lanjut, dan menyerahkan pertanyaan itu langsung kepada pihak yang bersangkutan.

"No coment , silahkan tanya kepada yang bersangkutan , kenapa mereka melakukan itu," tutupnya.(Red)

IMG-20251127-WA0021

Tokoh Pemuda Muara Bungin Laporkan Permasalahan Abrasi, Penambang Pasir dan Nelayan Jaring Arad ke Posko Pengaduan KDM Lembur Pakuan

Proses pengaduan di Lembur Pakuan

Jendela Jurnalis Subang, JABAR - Situasi lingkungan di wilayah pesisir Muara Kampung Bungin, Desa Pantai Bakti, Kecamatan Muara Gembong semakin mengkhawatirkan. Abrasi yang kian parah, maraknya aktivitas penambangan pasir, serta penggunaan jaring arad oleh sebagian nelayan menjadi tiga persoalan utama yang membuat masyarakat menyampaikan laporan resmi ke Posko Pengaduan KDM Lembur Pakuan.

‎Laporan ini disampaikan oleh perwakilan warga pesisir, Reydo, yang datang langsung untuk menjelaskan kondisi lapangan yang semakin tidak terkendali.

‎Abrasi Menggerus Daratan dan Mengancam Permukiman

‎Abrasi di Muara Kampung Bungin telah mencapai titik kritis. Garis pantai terus mundur, menggerus permukiman, tambak, dan area aktivitas nelayan. Air laut semakin mudah masuk ke daratan saat pasang besar, menyebabkan kerusakan fisik sekaligus kerugian ekonomi bagi masyarakat.

‎Warga menilai kondisi ini tidak lagi bisa ditanggulangi secara mandiri. Hilangnya mangrove, gelombang besar, dan perubahan arus laut membuat abrasi terus bergerak tanpa henti.

‎Penambangan Pasir Dinilai Memperparah Kerusakan

‎Selain abrasi, masyarakat juga melaporkan adanya aktivitas penambangan pasir di beberapa titik muara yang diduga menjadi salah satu penyebab percepatan kerusakan lingkungan. Aktivitas tersebut mengganggu struktur dasar muara, memicu pendangkalan, sekaligus memperlemah tanah di sisi pesisir.

‎Warga khawatir penambangan pasir yang tidak terkendali akan menyebabkan wilayah pesisir kehilangan daya dukungnya dan mempercepat hilangnya permukiman.

‎Nelayan Jaring Arad Mengganggu Ekosistem dan Nelayan Tradisional

‎Penggunaan jaring arad turut menjadi keluhan utama. Warga dan nelayan tradisional menyampaikan bahwa arad merusak ekosistem dasar laut, menghabiskan biota kecil, dan menurunkan hasil tangkap nelayan lainnya.

‎Konflik antar-nelayan mulai muncul akibat penggunaan alat tangkap yang dianggap merusak, sehingga warga meminta adanya penertiban dan aturan yang ditegakkan secara tegas.

‎Kutipan Reydo Saat Melapor ke KDM

‎Dalam penyampaiannya di Posko Pengaduan KDM Lembur Pakuan, Reydo menjelaskan tiga persoalan yang kini membebani masyarakat pesisir.

‎“Kami datang untuk melaporkan tiga hal sekaligus: abrasi yang sudah sangat parah, aktivitas penambangan pasir, dan penggunaan jaring arad. Semuanya saling berkaitan dan semuanya merusak kehidupan kami di pesisir,” tegas Reydo.

‎Ia menambahkan bahwa warga sudah terlalu lama menanggung dampak kerusakan tanpa adanya penanganan tegas.

‎“Abrasi menghabiskan daratan, penambangan pasir mempercepat kerusakan, dan jaring arad menghancurkan laut tempat kami mencari makan. Kami butuh solusi nyata, bukan hanya pendataan. Kami meminta ini segera ditindaklanjuti,” tutur Reydo.

‎KDM Akan Meneruskan Laporan ke Instansi Terkait

‎Pihak Posko Pengaduan KDM memastikan bahwa seluruh laporan warga telah dicatat dan akan diteruskan kepada instansi terkait, termasuk pemerintah daerah, dinas lingkungan hidup, dinas perikanan, dan aparat penegak hukum.

‎KDM juga berkomitmen mengawal proses tindak lanjut agar persoalan ini mendapat perhatian serius.

‎Sementara itu, warga juga mendesak pengawasan dan penanganan nyata dari pemerintah.

‎Atas dasar aduan tersebut, masyarakat berharap pemerintah segera melakukan beberapa hal diantaranya;

‎- Membuat penanganan darurat abrasi

‎- Menertibkan dan menghentikan penambangan pasir

‎- Mengontrol dan membina nelayan pengguna jaring arad

‎- Melakukan rehabilitasi mangrove dan penguatan garis pantai

‎- Melakukan patroli dan pengawasan rutin di wilayah muara. (NN)*

IMG-20251127-WA0022

Kasus Dugaan Pelanggaran Pembelian BBM untuk Alat Berat, Ketum LBH Maskar Indonesia Sebut Keterangan Kabid SDA PUPR Karawang Seolah Cari Pembenaran

Ketum LBH Maskar Indonesia (kanan) dan Kabid SDA PUPR Karawang (kiri) dengan background mobil plat merah saat melakukan pembelian BMM menggunakan jerigen.

Jendela Jurnalis Karawang, JABAR - Dugaan pembelian Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi untuk alat berat jenis excavator di Dinas pekerjaan umum dan penataan ruang kabupaten Karawang semakin meruncing.

‎Diketahui, pembelian solar untuk BBM di Dinas PUPR Karawang ini dikelola Bidang Sumber Daya Air (SDA). Yaitu dimana setiap pembeliannya di SPBU tertentu mencapai 600 liter perhari.

‎Aries Purwanto, S.T., M.Si., selaku Kepala Bidang (Kabid) Sumber Daya Air (SDA) Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Karawang saat dikonfirmasi di ruang kerjanya mengungkapkan bahwa dirinya telah bekerja sama dengan beberapa SPBU.

‎"Kami telah bekerjasama dengan beberapa SPBU untuk memasok BBM sesuai dengan kebutuhan dan jarak yang terdekat dari lokasi yang sedang dilaksanakan normalisasi," ungkapnya. Kamis (27/11/25).

‎Adapun menurutnya, apa yang sudah dikerjakan itu sesuai dengan regulasi, yang dimana bahan bakar excavator harus memakai bahan bakar nonsubsidi.

‎"Jadi yang dipergunakan bahan bakar jenis Dexlite," ujarnya.

‎Padahal, dalam regulasi yang tertulis dalam Undang-Undang No. 22 Tahun 2001 tentang minyak gas dan bumi menjadi landasan utama yang mengatur kegiatan usaha migas di Indonesia, termasuk pengangkutan, penyimpanan, dan niaga BBM. Dimana tata cara pembelian solar industri dalam jumlah besar biasanya dilakukan melalui agen bunker atau badan usaha niaga BBM resmi (seperti PT Pertamina atau swasta lain yang berizin) dengan mekanisme kontrak atau kesepakatan bisnis, bukan melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) biasa yang melayani eceran atau BBM bersubsidi.

‎Dari keterangan Kabid tersebut, jelas pihaknya telah melanggar regulasi yang sudah dibuat oleh pemerintah melalui UU Jasa Kontruksi yang didalamnya disebutkan proyek pemerintah yang menggunakan alat excavator wajib menggunakan BBM nonsubsidi (solar industri) dengan modus untuk mencari keuntungan dari selisih harga pembelian antara solar industri dengan bahan bakar jenis Dexlite.

‎Karena, jika kita hitung, apabila di ukur dari harga Dexlite dan solar khusus industri itu sangat jauh berbeda, dimana harga Dexlite terpaut lebih murah dengan selisih sekitar Rp. 8000,-. Secara otomatis apabila dipaksakan memakai Dexlite, pemerintah akan mengalami kerugian kurang lebih sekitar Rp. 8000,- perliter, karena dari yang seharusnya belanja Rp. 21.400 menjadi Rp. 13.900, dimana keuntungan dari selisih harga tersebut disinyalir masuk ke kantong oknum Bidang SDA dengan kalkulasi hitungan selisih dari 600 liter per hari.

‎Menyikapi hal tersebut, H. Nanang Komarudin, S.H., M.H., selaku Ketua Umum LBH Maskar Indonesia menyebut bahwa dalam hal tersebut Kabid SDA seolah sedang mencari pembenaran, padahal faktanya memang telah melakukan kesalahan.

‎"Kita ketahui bersama, kalau di SPBU itu dilarang melakukan pembelian menggunakan jerigen, karena memang SPBU dikhususkan melayani pembelian kendaraan bermotor sejenis mobil dan sepeda motor. Kalau untuk alat berat sejenis excavator kan seharusnya melakukan pembelian sesuai prosedur dalam skala industri," paparnya.

‎Lebih lanjut, H. Nanang meminta agar BPH Migar maupun Hiswana Migas selaku pihak yang menaungi dan mengatur peredaran minyak dan gas dalam hal ini melakukan tindakan tegas, yaitu untuk menutup semua SPBU yang disinyalir telah melanggar peraturan. (Pri)*

IMG-20251127-WA0002

Pembelian BBM Alat Berat di Dinas PUPR Karawang Disorot

Jendela Jurnalis Karawang JABAR Inspektorat dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) diminta untuk segera mengaudit pembelian BBM atau solar diduga subsidi yang dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Karawang.

Diketahui, pembelian solar untuk bahan bakar alat berat Dinas PUPR Karawang ini dikelola Bidang Sumber Daya Air (SDA). Yaitu dimana setiap pembeliannya di SPBU tertentu mencapai 600 liter.

Praktisi Hukum dan Pengamat Kebijakan, Asep Agustian SH, MH, mempertanyakan, apakah pembelian BBM ini sudah ada MoU antara Dinas PUPR dengan pihak SPBU terkait. Kalau pun ada, maka hal tersebut tidak dibenarkan.

Karena ditegaskan, seharusnya Dinas PUPR Karawang melakukan MoU langsung dengan pihak Pertamian terkait kebutuhan BBM atau solar untuk operasi alat berat.

"Ini karena mereka membeli langsung dari SPBU tertentu dengan menggunakan mobil plat merah bak terbuka, akhirnya menjadi pertanyaaan publik. Jangan-jangan mereka membeli BBM atau solat subsidi," tutur Asep Agustian, Rabu (26/11/2025).

Askun (sapaan akrab) mempertanyakan berapa liter sebenarnya kebutuhan BBM atau solar Dinas PUPR setiap harinya untuk mengoperasikan alat berat. Karena dalam satu titik SPBU saja bisa mencapai 600 liter.

Sementara berdasarkan informasi yang ia dapat, dalam satu hari Dinas PUPR Karawang membeli BBM atau solar di tiga titik SPBU yang berbeda.

"Ya itu kelemahannya, karena mereka sepertinya tidak ada MoU langsung dengan Pertamina. Coba kalau ada MoU, mereka tidak perlu repot-repot belanja di SPBU setiap hari, karena nanti diantar langsung Pertamina ke Dinas PUPR," katanya.

"Dan kalau ada MoU langsung dengan Pertamina, maka akan lebih jelas pertanggungjawabannya. Tidak memunculkan kecurigaan publik seperti saat ini (membeli BBM subsidi)," timpal Askun.

Atas persoalan ini, Askun meminta inspektorat dan BPK untuk segera mengaudit pembelian BBM di Bidang SDA Dinas PUPR Karawang. Dengan harapan setiap proses pembelian BBM ini lebih tertib administrasi dan untuk meminimalisir tindak pidana mark up atau korupsi.

"Saya minta Inspektorat dan BPK untuk mengaudit, supaya kita tahu yang dibeli BBM subsidi atau non subsidi dan benar gak peruntukannya," tandasnya.

Sementara saat dikonfirmasi wartawan lewat pesan WhatsApp (WA), Samsul - Kepala UPTD Dinas Wilayah V PUPR Karawang menegaskan, bahwa pembelian BBM yang dilakukan adalah non subsidi berupa BBM Pertamina dex. Karena menurutnya yang tidak diperbolehkan adalah pembelian bio solar, bahkan dirinya menegaskan bahwa mobil yang mengangkut BBM tersebut tugasnya hanya melakukan pengambilan karena yang melaksanakan transaksi itu langsung bidang SDA.

Namun sampai berita ini masuk meja redaksi, belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai berapa sebenarnya kebutuhan BBM Dinas PUPR setiap harinya?. Dan kenapa Dinas PUPR tidak melakukan MoU dengan Pertamina dalam setiap pembelian BBM-nya.agar tidak terjadi adanya indikasi penyalahgunaan karena untuk alat berat dalam aturan nya sudah jelas harus menggunakan BBM industri bukan BBM dari SPBU.(Red)