Rob Telan Kampung Bungin, Pemerintah Masih Sibuk Menutup Mata: Warga Sudah Lelah Menunggu Kepedulian yang Tak Pernah Datang
Jendela Jurnalis Bekasi, JABAR – Di atas sebilah bambu basah, seorang warga pesisir hanya bisa duduk memandangi kampungnya yang kembali terendam. Air rob mengalir pelan namun pasti, sementara harapan masyarakat tenggelam jauh lebih cepat daripada rumah-rumah mereka yang kini semakin rusak.
Pemandangan ini bukan lagi bencana, tapi bukti kegagalan bertahun-tahun.
Gagal melindungi, gagal hadir, gagal peduli.
Warga pesisir tidak menuntut kemewahan—mereka hanya ingin bisa tinggal di kampung mereka tanpa harus bertarung melawan air laut setiap hari. Tetapi pemerintah yang seharusnya berdiri di barisan depan justru paling dulu menghilang.
“Kami bukan minta istana, kami cuma minta jangan dibiarkan tenggelam,” ujar salah satu warga dengan suara bergetar, menahan kecewa yang sudah terlalu lama dipendam.
Rob terus naik. Abrasi semakin menggigit daratan.
Namun pemerintah masih asik dengan alasan lama yang terus diulang seperti kaset rusak: menunggu anggaran, menunggu program, menunggu laporan, menunggu persetujuan…
Sementara warga tak tahu lagi apa yang harus ditunggu selain kampung ini benar-benar habis digerogoti laut.
Dari dulu pemerintah datang kalau ada kamera, pergi kalau warga butuh.
Datang kalau mau pencitraan, menghilang ketika masyarakat meminta keadilan.
Pesisir seperti hanya menjadi tempat untuk dikunjungi — bukan untuk diselamatkan.
Kampung yang terendam ini seolah berkata keras:
“Bukan laut yang paling kejam, tapi ketidakpedulian.”
Setiap hari warga dihantam kenyataan pahit:
Rumah retak dan terendam
Jalan berubah jadi sungai asin
Aktivitas lumpuh
Nelayan kesulitan berangkat melaut
Anak-anak tumbuh di lingkungan yang semakin berbahaya
Dan pemerintah?
Masih sibuk rapat.
Masih sibuk janji.
Masih sibuk diam.
Sementara itu warga pesisir hanya bisa menyaksikan kampung mereka perlahan lenyap, bukan karena mereka tidak berjuang—tetapi karena perjuangan mereka tidak pernah didengar.
Jika keadaan ini terus dibiarkan, nanti sejarah akan mencatat, yang pertama kali merusak pesisir bukanlah gelombang besar, tetapi pengabaian yang dibiarkan menjadi kebiasaan.
Dan ketika kampung ini benar-benar hilang, pertanyaan yang paling pedas akan tetap menggantung, “Di mana pemerintah ketika kami masih punya kesempatan untuk diselamatkan?” pungkasnya. (RCF)*
